BERITA UTAMA

Heboh! Masyarakat Tarok Pertanyakan Sertifikat atas Ex Kantor Lurah Tarok yang Diklaim Pemko Payakumbuh

PAYAKUMBUH — Heboh, masyarakat Tarok pertanyakan terbitnya sertifikat atas Ex Kantor Lurah Tarok yang Diklaim Pemko Payakumbuh. Hal tersebut sempat...
BERITA UTAMA KABAR SUMBAR

Diduga Abaikan Perintah Bupati, Kadis Kesehatan Agam Dituding Tutupi Kasus Asusila di Puskesmas Magek Selama 9 Bulan

Diduga Abaikan Perintah Bupati, Kadis Kesehatan Agam Dituding Tutupi Kasus Asusila di Puskesmas Magek Selama 9 Bulan   *AGAM, Payakumbuhpos.id*...
BERITA UTAMA

Diketuai Ns. Reisy Tane, M.Kep., Sp.Kep.An, Tim Pengabdian Masyarakat Univ USU Edukasi Masyarakat Kwala Bingai

Foto; Ns. Reisy Tane, M.Kep., Sp.Kep.An (Its) MEDAN – Tim pengabdian bagi masyarakat Universitas Sumatera Utara yang diketuai oleh Ns....
BERITA UTAMA

Dorongan Penyegaran di Golkar Payakumbuh Menguat, Wirman Putra Dinilai Paling Siap Pimpin DPD II

Wirman Putra Datuak Rajo Mantiko Alam Ketua DPRD Payakumbuh (ist) PAYAKUMBUH — Jelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kota Payakumbuh,...
BERITA UTAMA

Sejarah Baru, Payakumbuh di Bawah Wako Zulmaeta Sukses Gelar Indonesia’s Horse Racing Cup II.

Payakumbuh—PAYAKUMBUHPOS, Sejarah baru tercipta di dunia pacu kuda Indonesia. Untuk pertama kalinya, Indonesia's Horse Racing Cup yang selama ini hanya...

Inovasi Terbaru Riza Falepi, Gagas Penerapan Teknologi Pengawetan Sayuran

Payakumbuh- Berbagai inovasi terus dilakukan Wali Kota Payakumbuh Riza Falepi Datuak Rajo Ka Ampek Suku dalam memajukan daerah yang dipimpinnya. Kali ini, dia menggagas penerapan teknologi sistem pengawetan pascapanen untuk produk sayuran ataupun holtikultura dengan tujuan membantu para petani.

“Ada satu lagi program inovasi kami dalam menangani persoalan pengelolaan sayuran pascapanen, yaitu dengan menerapkan teknologi sistem pengawetan,” ujar Riza ketika dihubungi Jum’at (17/5).

Menurut Wali Kota yang lebih memberikan perhatian pada bidang ekonomi di periode kedua itu, sistem pengawetan holtikultura merupakan alat pengendali inflasi dimana petani bebas menentukan kapan produk hasil panennya dijual sesuai dengan keinginan petani itu sendiri.

“Misalnya cabe ketika murah kita awetkan atau dinginkan, tapi kalau sudah naik harganya baru dilepas lagi tanpa merusak kondisinya. Bisa tahan untuk 3 minggu dan biasanya harga sudah baik lagi setelah beberapa hari,” tutur Riza.

Alumni ITB itu menjelaskan, sistem pengawetan sayuran ini melalui proses riset yang tepat guna agar bisa mendinginkan sayuran ataupun holtikultura sesuai dengan karakter masing masing produk sehingga tidak merusak produk itu sendiri.

“Perlu teknologi yang mumpuni dan sedikit riset terapan agar maksimal hasilnya. Terutama yang perlu dijaga kondisi pendingin yang optimal agar ketika produk keluar dari pendingin tetap segar dan tidak rusak,” ucap Riza.

Setelah teknologi sistem pengawetan ini diterapkan, tentunya akan menguntungkan petani karena bisa mengendalikan inflasi ataupun fluktuasi harga komoditas pertanian khususnya holtikultura. “Teknologi ini juga bisa dipakai untuk Jeruk Gunuang Omeh misalnya,” kata Riza. ( Benpi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *