Miris! Final Futsal Porprov Sumbar Ricuh, Pemain Saling Hantam di Depan Kepala Daerah.
PAYAKUMBUH POS — Miris! Laga final futsal Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumatera Barat yang seharusnya menjadi ajang menjunjung tinggi sportivitas justru diwarnai aksi baku hantam antarpemain. Ironisnya, perkelahian itu terjadi tepat di depan para kepala daerah yang hadir menyaksikan pertandingan.
Final yang mempertemukan Kota Payakumbuh dengan Kabupaten Limapuluh Kota tersebut mendadak memanas. Euforia kemenangan suporter Kabupaten Limapuluh Kota diduga menjadi pemicu meningkatnya ketegangan hingga berujung adu jotos antarpemain.
Dalam video yang beredar di media sosial, sejumlah pemain terlihat terlibat perkelahian. Situasi berlangsung panas, bahkan salah seorang pemain tampak mengalami luka pada bagian bibir hingga harus dilarikan ke Puskesmas terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.
Peristiwa ini menjadi sorotan karena terjadi di hadapan sejumlah pejabat penting, yakni Bupati Limapuluh Kota Safni, Wakil Bupati Ahlul Badrito Resha, Wakil Wali Kota Payakumbuh, serta Ketua DPRD Kota Payakumbuh. Pertandingan yang semestinya menjadi panggung prestasi olahraga justru tercoreng oleh aksi kekerasan.
Ketua KONI Kota Payakumbuh, Chairul Mufti, membenarkan terjadinya insiden tersebut saat dihubungi wartawan seusai pertandingan, Senin sore (12/10/2026).
Menurut Chairul, perkelahian berlangsung singkat dan segera dilerai sebelum situasi semakin memburuk. Bahkan, para kepala daerah yang berada di lokasi turut membantu meredakan ketegangan.
“Terjadi di depan kepala daerah, ada bupati, wakil bupati, wakil wali kota dan ketua DPRD. Untung perkelahian cepat dilerai,” ujar Chairul.
Meski sempat diwarnai aksi saling pukul, persoalan antara kedua pihak akhirnya diselesaikan secara damai. Para pemain disebut telah saling berpelukan dan memaafkan satu sama lain.
“Sudah damai, sudah selesai. Semuanya sudah berpelukan, saling memaafkan,” tutupnya.
Insiden tersebut menjadi catatan serius bagi dunia olahraga daerah. Final Porprov semestinya menjadi ajang menunjukkan kemampuan, kebersamaan, dan sportivitas, bukan justru mempertontonkan kekerasan di hadapan para pemimpin daerah dan masyarakat yang menyaksikan.
(FajriHR).













