BERITA UTAMA

Bintang Utama Bantai KBS di LJP

Teks foto: SSB KBS dibantai SSB Bintang Utama dengan skor 0-6, di lapangan kelurahan Koto Baru, kecamatan Payakumbuh Timur, Jumat...
BERITA UTAMA

Bukti Rasa Syukur, Masyarakat Sijunjung Gelar Tradisi Bakaua Adat di Los Tobek

Sijunjung,Payakumbuhpos - Bakaua Adat adalah sebentuk tradisi yang ada dimasyarakat Minang Kabau, khususnya Kabupaten Sijunjung sebagai bentuk rasa syukur kepada...
BERITA UTAMA

DPD Pappri Sumbar Himpun Dana Bencana Alam Sumatera Barat

Teks foto: Kru Pappri Sumbar ikut sakaki menghimpun pencarian dana bencana alam Sumatera Barat.       Payakumbuhpos.id | Payakumbuh-- Pasca...
BERITA UTAMA

Disorot Fraksi Golkar, Habiskan APBD Rp1,5 M, Kini Incinerator Sudah Menjadi Besi Tua

Teks foto: Wirman Putra-Juru Bicara Fraksi Golkar DPRD kota Payakumbuh.       Payakumbuhpos.id | Payakumbuh--- Gaung kasus incinerator di RSUD...
BERITA UTAMA

Lulus di ITB Lewat Jalur Undangan, YB. Dt. Parmato Alam Salurkan Bea Siswa

Teks foto: Yendri Bondra Dt. Parmato Alam salurkan bantuan bea siswa kepada Ranji Andiko yang lulus di ITB Bandung lewat...

Inovasi Terbaru Riza Falepi, Gagas Penerapan Teknologi Pengawetan Sayuran

Payakumbuh- Berbagai inovasi terus dilakukan Wali Kota Payakumbuh Riza Falepi Datuak Rajo Ka Ampek Suku dalam memajukan daerah yang dipimpinnya. Kali ini, dia menggagas penerapan teknologi sistem pengawetan pascapanen untuk produk sayuran ataupun holtikultura dengan tujuan membantu para petani.

“Ada satu lagi program inovasi kami dalam menangani persoalan pengelolaan sayuran pascapanen, yaitu dengan menerapkan teknologi sistem pengawetan,” ujar Riza ketika dihubungi Jum’at (17/5).

Menurut Wali Kota yang lebih memberikan perhatian pada bidang ekonomi di periode kedua itu, sistem pengawetan holtikultura merupakan alat pengendali inflasi dimana petani bebas menentukan kapan produk hasil panennya dijual sesuai dengan keinginan petani itu sendiri.

“Misalnya cabe ketika murah kita awetkan atau dinginkan, tapi kalau sudah naik harganya baru dilepas lagi tanpa merusak kondisinya. Bisa tahan untuk 3 minggu dan biasanya harga sudah baik lagi setelah beberapa hari,” tutur Riza.

Alumni ITB itu menjelaskan, sistem pengawetan sayuran ini melalui proses riset yang tepat guna agar bisa mendinginkan sayuran ataupun holtikultura sesuai dengan karakter masing masing produk sehingga tidak merusak produk itu sendiri.

“Perlu teknologi yang mumpuni dan sedikit riset terapan agar maksimal hasilnya. Terutama yang perlu dijaga kondisi pendingin yang optimal agar ketika produk keluar dari pendingin tetap segar dan tidak rusak,” ucap Riza.

Setelah teknologi sistem pengawetan ini diterapkan, tentunya akan menguntungkan petani karena bisa mengendalikan inflasi ataupun fluktuasi harga komoditas pertanian khususnya holtikultura. “Teknologi ini juga bisa dipakai untuk Jeruk Gunuang Omeh misalnya,” kata Riza. ( Benpi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *