BERITA UTAMA KABAR SUMBAR

TIGA SKANDAL DI DINKES AGAM: Kasus Asusila Magek Menggantung, Sopir Merasa Ditinggalkan Kadis, Rangkap Jabatan Wartawan Pemkab Tutup Mata

TIGA SKANDAL DI DINKES AGAM: Kasus Asusila Magek Menggantung, Sopir Merasa Ditinggalkan Kadis, Rangkap Jabatan Wartawan Pemkab Tutup Mata  ...
BERITA UTAMA

Heboh! Masyarakat Tarok Pertanyakan Sertifikat atas Ex Kantor Lurah Tarok yang Diklaim Pemko Payakumbuh

PAYAKUMBUH — Heboh, masyarakat Tarok pertanyakan terbitnya sertifikat atas Ex Kantor Lurah Tarok yang Diklaim Pemko Payakumbuh. Hal tersebut sempat...
BERITA UTAMA KABAR SUMBAR

Diduga Abaikan Perintah Bupati, Kadis Kesehatan Agam Dituding Tutupi Kasus Asusila di Puskesmas Magek Selama 9 Bulan

Diduga Abaikan Perintah Bupati, Kadis Kesehatan Agam Dituding Tutupi Kasus Asusila di Puskesmas Magek Selama 9 Bulan   *AGAM, Payakumbuhpos.id*...
BERITA UTAMA

Diketuai Ns. Reisy Tane, M.Kep., Sp.Kep.An, Tim Pengabdian Masyarakat Univ USU Edukasi Masyarakat Kwala Bingai

Foto; Ns. Reisy Tane, M.Kep., Sp.Kep.An (Its) MEDAN – Tim pengabdian bagi masyarakat Universitas Sumatera Utara yang diketuai oleh Ns....
BERITA UTAMA

Dorongan Penyegaran di Golkar Payakumbuh Menguat, Wirman Putra Dinilai Paling Siap Pimpin DPD II

Wirman Putra Datuak Rajo Mantiko Alam Ketua DPRD Payakumbuh (ist) PAYAKUMBUH — Jelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kota Payakumbuh,...

Supardi : Terciptanya Musyawarah Tuo Silek , Berawal Dari Kegalauan

  Payakumbuh – Terciptanya Musyawarah Tuo Silek Berawal dari kegalauan kita Pasca di Selenggarakan nya Pekan Olahraga Nasional (PON ) kemarin di Papua, itu artinya jauh sebelum kita di tunjuk sebagai Ketua IPSI, ungkap Supardi Ketua DPRD Sumatera Barat  di Agam Jua , Jumat malam , 3 Juni 2022.

Dimana Supardi mengatakan hasil perolehan PON itu, Kita menunjukan hasil yang cukup mengecewakan. Kita tidak bisa bërada pada peringkat 10 besar. Sementara Asbab An-Nuzul itu silek itu bërada di Sumatera Barat di ranah Minang. Harusnya ini menjadi kebanggaan bagi Kita . Bahkan pesilat pesilat di luar negeripun , mengakui nenëk moyang mereka belajar di ranah Minang, Sumatera Barat. Pesilat- pesilat yang tangguh dari jawapun. , itu mengakui bahwasannya perguruan perguruan mereka belajar di ranah Minang. atau bisa jadi orang Minang mengajar ditanah rantau, itulah berkembang menjadi perguruan atau Sasaran sasaran  yang ada. Baik tingkat nasional maupun Internasional, ujar Supardi.

Sayang itu tertinggal semua. Bahkan Kita sebagai orang Sumatera Barat tidak lagi Bangga dengan silek. Kita lebih bangga  anak-anak  muda kita dengan perguruan yang lain, yang itu bisa dikatakan berasal dari luar indonesia. Mungkin karëna masalah kemasan dan sebagai nya. Sementara silek tertinggal jauh kebelakang. Hal inilah Kita diskusikan dengan taman budaya . Kesimpulan itu adalah kita mencoba mengevaluasi persoalan kita itu adalah ada nya pemisahan antara silek tradisional dengan silek prestasi.Seakan-akan silek preatasi tidal ada bersinggungan dengan silek tradisional. Contohnya di silek prestasi itu kita kenal dengan kuda kuda Sementara di silek tradisonal kita tidka.kenal dengan kuda kuda dia kenal langkah. Begitu Juga di silek prestasi itu masuk Bayar bulanan, Bayar uang masuk dan sebagai nya. Sementara di silek tradisonal di akan tentang filosofi nya itu ketuhanan. Syaratnya itu pisau, kain sakabuang , panjaik dan sebagai nya. itu filosofi yang sangat mahal. Artinya sekarnag itu sudah tertinggal. ,tergerus dimakan usia, ungkap.Supardi dihadapan wartawan.

Nah, anak anak kita yang berlatih tanding di luar. Tidak ada satupun atau jarang memiliki Basic silek tradisonal. Sementara kami yakin dan percaya, Andaikan seluruh atlit yang berkembang pada hari ini, memiliki basic silek tradisonal , jangankan indonesia , duniapun tidak akan pernah merobohkan nya. Karena sudah teebukti . Kita meninggalkan basic yang begitu kuat, hanya mencari sebuah popularitas, itulah yang terjadi pada hari ini. Dari beberapa contoh bisa Kita kembangkan bagaimana seorang jawara jawara atau juara juara Internasional baik itu Karate , Taekwondo dan sebagai nya sesungguhnya basic mereka itu berasal dari Silek dulunya, ungkap Supardi lagi.

Ketika kita diskusikan dengan teman budaya kita ingin merekrut yang tertinggal itu. Kita coba undang tuo -uo silek kita yang ada di Sumbar. Siapa itu tuo tuo silek? yaitu orang orang yang punya komitmen yang tërus mengembangkan silek nya , dan orang orang yang punya tempatan. atau tempat surau tempat dia mengajar. Karena silek itu identik dengan surau,ulas Supardi.

Banyak pesilat pesilat kita , Guru-guru kita yang mengajar silek itu yang tërus menerus dan memiliki sasaran. Kalau di Payakumbuah, misalnya Angku lakuang tempatnya di Surau Lakuang Begitu Juga  Angku Lubuak di Surau Lubuak, itu merupakan pejuang pejuang atau tokoh tokoh silek kita terdahulu. Cuna saja ketika taman budaya menginventarisirj umlah orang tuo silek , ini yang menjadi kesulitan bagi kita. karena sampai hari ini, kita belum punya data yang konkret terhadap orang orang yang kita juluki tuo silek tersebut, imbuh Supardi.

Apakah masih ada? masih banyak, apalagi di Luak Limopuluah., Syeh syeh kita masih banyak. Hanya saja tuo silek tidak mau di publis. dia tidak mau dikenal, dia lebih banyak menutup diri. Mereka masih mengajar, seperti di malam hari. Sehingga kesulitan bagi kita untuk mendata. Tapi minimal dengan acara musyawarah tuo silek yang digelar pada 4 -5 Juni ,  kita undang 60 orang.  Dari 60 orang itu ada sebagian yang mengembangkan silek dan memiki sasaran. Dia Punya surau yang diketahui khalayak ramai, imbuh Supardi lagi.

Output dari musyawarah tuo silek ini,  Melahirkan sebuah rekomendasi. Kita ingin mengajak mereka turun gunung, untuk prihatin dengan prestasi anak kita sekarang ini. Bahwasannya silek tidak diminati sebagaimana mereka meminati perguruan perguruan di luar silek. Andaikan mereka bisa kita ajak keluar lagi, Kita perkenalkan lagi dengan silek tradisonal kita itu. Saya yakin percaya generasi muda kita akan terarik. Selain itu acara kita gelanggang silek tradisi, Kalau acara musyawarah kita sepakati di Balai Kaliki. Gelanggang silek tradisi ini, Kita undang beberapa buah sasaran. Tetap sasaran itu perguruan perguruan “Silek Tuo”, pungkas Supardi. (Benpi)

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *