BERITA UTAMA KABAR SUMBAR

Diduga Abaikan Perintah Bupati, Kadis Kesehatan Agam Dituding Tutupi Kasus Asusila di Puskesmas Magek Selama 9 Bulan

Diduga Abaikan Perintah Bupati, Kadis Kesehatan Agam Dituding Tutupi Kasus Asusila di Puskesmas Magek Selama 9 Bulan   *AGAM, Payakumbuhpos.id*...
BERITA UTAMA

Diketuai Ns. Reisy Tane, M.Kep., Sp.Kep.An, Tim Pengabdian Masyarakat Univ USU Edukasi Masyarakat Kwala Bingai

Foto; Ns. Reisy Tane, M.Kep., Sp.Kep.An (Its) MEDAN – Tim pengabdian bagi masyarakat Universitas Sumatera Utara yang diketuai oleh Ns....
BERITA UTAMA

Dorongan Penyegaran di Golkar Payakumbuh Menguat, Wirman Putra Dinilai Paling Siap Pimpin DPD II

Wirman Putra Datuak Rajo Mantiko Alam Ketua DPRD Payakumbuh (ist) PAYAKUMBUH — Jelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kota Payakumbuh,...
BERITA UTAMA

Sejarah Baru, Payakumbuh di Bawah Wako Zulmaeta Sukses Gelar Indonesia’s Horse Racing Cup II.

Payakumbuh—PAYAKUMBUHPOS, Sejarah baru tercipta di dunia pacu kuda Indonesia. Untuk pertama kalinya, Indonesia's Horse Racing Cup yang selama ini hanya...
BERITA UTAMA

Rezka Oktoberia Meski Tak Lagi di DPR RI, hadirkan 26 Titik Irigasi P3TGAI di Payakumbuh dan Lima Puluh Kota.

LIMA PULUH KOTA — Meski tidak lagi menjabat sebagai anggota DPR RI, kepedulian Rezka Oktoberia terhadap masyarakat tidak pernah pudar....

Pjs. Wako Bukittinggi Minta Magnet Wisata Harus Dirawat dan Dijaga Keasriannya

Bukittinggi, Payakumbuhpos.id, — Pjs Wali Kota Bukittinggi, H. Hani Syopiar Rustam, berkesempatan untuk masuk dan naik ke Jam Gadang yang menjadi icon Kota Bukittinggi, Sabtu (02/11) pagi.

H. Hani Syopiar Rustam, menyampaikan, Jam Gadang selama ini menjadi ikon Kota Bukittinggi, bahkan jadi ikon Sumatera Barat.

Jam Gadang juga menjadi objek wisata masyarakat dan turis yang berkunjung ke Bukittinggi dengan keberadaan taman luas di sekelilingnya.

Bermaterial kapur dengan tinggi sekitar 26 meter, Jam Gadang selesai dibangun pada tahun 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, sekretaris atau controleur Fort de Kock (sekarang Kota Bukittinggi) pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

“Jam Gadang dengan Big Ben di London, Inggris, sama pembuatnya. Orang yang buat dan pabriknya sama. Jadi yang membuat Jam Gadang ini, namanya Benhard Vortmann dari Jerman. Dia hanya membuat dua di dunia, satu di London dan satunya di Bukittinggi ini,” ujarnya.

Untuk itu Pjs Wako Bukittinggi meminta warisan sejarah ini harus dipelihara keaslian dan keasriannya. Pemeliharaannya harus dilakukan rutin, dengan tidak merubah bentuknya.

“Bunyi khas Jam Gadang, memang tidak pernah berubah dari dulunya. Kita coba pikirkan dan upayakan, bagaimana suaranya ini bisa terdengar lebih jauh jangkauannya, mungkin bisa ditambah dengan pengeras suara, tapi tetap tidak merubah bunyinya,” ungkapnya.

(Mel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *