BERITA UTAMA

Ini Gugatan GPMania2024 ke PTUN Jakarta, Batalkan Pencapresan Prabowo-Gibran

Sunggul Hamonangan Sirait, SH, MH Payakumbuhpos.id -- Relawan Capres Ganjar Pranowo dan cawapres Mahfud MD, GP Mania 2024 Reborn meminta...
BERITA UTAMA

Bakor Paliko Pulang Kampuang, Gelar Sunatan Massal dan Bakti Sosial

PAYAKUMBUH - Perantau Minangkabau yang tergabung dalam Badan Koordinasi Ikatan Keluarga Payakumbuh-Limapuluh Kota (Bakor Paliko) Indonesia, Malaysia, dan Australia pulang...
BERITA UTAMA

Perjalanan Study Komparatif Wartawan Luak 50 Ke Kota Bertuah

Pekan Baru-- Keberangkatan rombongan wartawan Luak 50 Ke Kota Pekan Baru (Riau) merupakan agenda Study Komparatif yang dilaksanakan oleh Dinas...
BERITA UTAMA

Selain Tokoh Nasional HDI Sangat Peduli Terhadap Mahasiswa Luak Limopuluah Yang Berada di Pulau Jawa

Bogor--- Herman Darnel Ibrahim (HDI) selain tokoh nasional juga memiliki sebuah kepedulian terhadap para mahasiswa yang berasal.darii lLuak 50 yang...
BERITA UTAMA

Projo Ganjar Laporkan Budi Arie Setiadi ke Ketua Ombudsman Republik Indonesia

JAKARTA - Projo Ganjar yang diketuai oleh Nora Haposan Situmorang S.H.,Melaporkan Budi Arie Setiadi yang merupakan Menteri Komunikasi dan Informatika...

Tekan Inflasi, Pemko Payakumbuh Siapkan 35.000 Bibit Cabe Siap Tanam, Minggu Pertama November Didistribusikan

Payakumbuh — Untuk terus menekan inflasi pada harga cabe, pada anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) perubahan tahun 2022 ini, Pemerintah Kota Payakumbuh mengalokasikan sebanyak 35.000 batang benih cabe yang akan dibagikan kepada Kelompok Wanita Tani (KWT), organisasi perangkat daerah, kecamatan, dan kelurahan.

“Kita menyediakan bibit siap tanam yang akan kita distribusikan pada minggu pertama November. Kita juga bekerja sama dengan Dinas Ketahanan Pangan, mereka menyediakan polibag dan kompos,” kata Kepala Dinas Pertanian Kota Payakumbuh Depi Sastra kepada media, Kamis (27/10).

Depi menerangkan, inflasi terjadi diakibatkan oleh sektor pertanian dengan naiknya harga bawang dan cabe, seharusnya ada harga keseimbangan, petani tidak merugi dan konsumen tidak kemahalan membeli.

“Kita berharap segera bisa keluar dari kondisi ini, meski saat ini harga cabe mulai menurun. Tapi kita terus berkoordinasi bersama pakar cabe dan kelompok-kelompok tani, bagaimana hasil cabe petani terus bagus dan ada keseimbangan harga,” kata Depi didampingi Kabid TPH-Bun Rozi Alleni.

Sebenarnya, kata Depi, harga seimbang cabe di pasaran adalah antara Rp. 30.000 hingga Rp. 40.000, dengan harga ini petani tidak dirugikan menjual produk dan konsumen tidak kemahalan membeli.

“Meski kita akui biaya produksi memang cukup tinggi, karena naiknya harga pestisida dan pupuk, kita berusaha mengantisipasi problem pupuk ini dengan mendorong kelompok tani untuk memproduksi pupuk organik melalui unit pengolahan pupuk organik, di bawah binaan dinas pertanian,” tegasnya.

Diinformasikannya juga, agar optimalnya bibit yang didistribusikan ini nantinya, petani diharapkan terbuka dan luwes untuk sering bertanya dan berkoordinasi dengan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang bisa memberikan pengarahan, pembinaan, dan penyuluhan di bidang pertanian.

“Kita juga ada sekolah lapangan bagi kelompok tani. Bersama mengajak masyarakat mensosialisasikan cabe dan bawang, dikawal oleh penyuluh pertanian. Penyuluh adalah sobat petani, mengawal petani, meningkatkan kesejahteraannya. Mudah-mudahan dengan kerja sama pemda dan masyarakat, inflasi bisa ditekan,” ujarnya.

Terakhir, Depi menjelaskan untuk komoditi bawang telah dianggarkan pada APBD tahun 2022, pengadaannya sebanyak kurang lebih 3,7 hektar dan sudah dibagikan ke kelompok tani.

“Pada APBD 2022, kita sudah salurkan bibit siap tanam seperti terung dan cabe,” tukuknya.

Depi juga mengapresiasi dukungan pemerintah pusat dengan Kota Payakumbuh mendapat alokasi anggaran dari APBN untuk bibit cabe sebanyak 20 hektar, lokasinya di Kecamatan Payakumbuh Timur sebanyak 10 hektar, dan sisanya di di Kecamatan Latina.

“Kita prediksi hasil dari penenaman cabe melalui bantuan itu lebih kurang 3000 ton,” ujarnya.

Sementara itu, dari sisi Penjabat Wali Kota Rida Ananda menyampaikan mengendalikan inflasi adalah salah satu tugas khususnya dari Presiden RI Joko Widodo. Rida berupaya menjawab keluhan-keluhan petani yang kesulitan bahan produksi dan masyarakat yang kesulitan dengan daya beli.

“Keseimbangan antara dua ini harus ada, kalau tidak maka akan menimbulkan kondisi ekonomi ekstrim. Sementara kita tahu, masyarakat kita sangat konsumtif dengan cabe,” kata Rida.

Rida berharap keberadaan terminal agrobisnis dan dengan adanya gerakan ASN membeli cabe dari petani, dapat menjadi beberapa opsi solusi untuk problem ini. Pihaknya siap bersinergi dengan berbagai pihak, baik untuk berdiskusi dan berkoodinasi memecahkan persoalan pertanian dan menyerap aspirasi petani.

“Meski hanya 7-9 persen kontribusi pertanian untuk perkembangan ekonomi di Kota Payakumbuh, tapi itu cukup berpengaruh. Kita harus terus berusaha meningkatkan hasil pertanian. Kami berharap ada ide-ide brilian yang diciptakan, kalau warga bermasalah dengan produksi pertanian dari hasil taninya, maka itulah gunanya pemerintah mencarikan solusi,” pungkasnya. (Benpi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *