BERITA UTAMA

Bintang Utama Bantai KBS di LJP

Teks foto: SSB KBS dibantai SSB Bintang Utama dengan skor 0-6, di lapangan kelurahan Koto Baru, kecamatan Payakumbuh Timur, Jumat...
BERITA UTAMA

Bukti Rasa Syukur, Masyarakat Sijunjung Gelar Tradisi Bakaua Adat di Los Tobek

Sijunjung,Payakumbuhpos - Bakaua Adat adalah sebentuk tradisi yang ada dimasyarakat Minang Kabau, khususnya Kabupaten Sijunjung sebagai bentuk rasa syukur kepada...
BERITA UTAMA

DPD Pappri Sumbar Himpun Dana Bencana Alam Sumatera Barat

Teks foto: Kru Pappri Sumbar ikut sakaki menghimpun pencarian dana bencana alam Sumatera Barat.       Payakumbuhpos.id | Payakumbuh-- Pasca...
BERITA UTAMA

Disorot Fraksi Golkar, Habiskan APBD Rp1,5 M, Kini Incinerator Sudah Menjadi Besi Tua

Teks foto: Wirman Putra-Juru Bicara Fraksi Golkar DPRD kota Payakumbuh.       Payakumbuhpos.id | Payakumbuh--- Gaung kasus incinerator di RSUD...
BERITA UTAMA

Lulus di ITB Lewat Jalur Undangan, YB. Dt. Parmato Alam Salurkan Bea Siswa

Teks foto: Yendri Bondra Dt. Parmato Alam salurkan bantuan bea siswa kepada Ranji Andiko yang lulus di ITB Bandung lewat...

Wow, Ada Bantal Sintetis Produksi Lapassus Sawahlunto

SAWAHLUNTO – Namanya Budi, lengkapnya Budi Satria, warga binaan Lapas Khusus Narkotika Sawahlunto ini ternyata berjiwa enterpreneur, punya keahlian sebagai pembuat bantal dan kasur dari kapas sintetis berbahan silikon dan dakron.

Kapok, terganjal hukuman penjara 9 tahun, narapidana tersangkut masalah barang haram narkotika asal Medan ini mulai merintis kehidupan baru yang produktif,di balik tembok kawat berduri Lembaga Pemasyarakatan Khusus (Lapassus) Narkotika, di Desa Kolok Mudik, Kec. Lembah Segar, Kota Sawahlunto.

Budi, di nobatkan sebagai “ketua” kelompok produktif Lapassus Narkotika Sawahlunto beranggotakan Rahmat Junaidi, Wemrizal, Riki Fernando, Oki saputra, Sozando Lase, dan Mon Alvario. Semuanya adalah terpidana kasus narkotika yang tengah menjaani hukuman dari 4 hingga 6 tahun, dan kini, bersisa sekitar 3 hingga 6 bulan kedepan.

Karena mereka memiliki potensi yang bisa di kembangkan, Kepala Lapassus Nasir, S.Sos, MH, melirik napi itu untuk diberikan pembinaan dalam rangka peningkatan inovasi Lapassus Narkotika, menjadi Lapassus berdimensi sumber daya manusia produktif.

Sehingga kelak, setelah menyelesaikan hukuman, mereka yang terjerumus menjadi penghuni penjara ini tersadar, untuk tidak lagi menyentuh apalagi mengkonsumsi dan memperdagangkan barang haram berbahaya ini.Tapi mampu membangun usaha baru yang lebih produktif.

Kepala Lapassus Nasir, di dampingi Al Jufri, Ka TU dan Kasi Pembinaan Hendrizal Fira, saat di sambangi harianindonesia.id, Jumat (12/7) pagi, menuturkan, selaku institusi pembinaan terhadap narapidana khusus narkotika, dia harus bisa menggali minat dan bakat serta kemampuan enterpreneur para napi.

Alhamdulillah, berkat keyakinan dan semangat kerja keras, melalui Koperasi Pegawai Lapassus Narkotika Sawahlunto, kami mampu mengelola industri kreatif pembuatan bantal sintetis silikon dan kasur dakron yang mulai di uji coba Mei 2019 lalu.

“Bermodal hanya dengan satu mesin jahit biasa, hasilnya, lumayan, pasar sangat terbuka dan orderan cukup banyak sehingga kami sedikit kesulitan memenuhi permintaan pasar.” ungkap Nasir, bangga.

Jumlah bantal yang di produksi setiap hari rata-rata 200 buah, di label dengan harga Rp 25 ribu untuk berbahan dakron, dn Rp 35 ribu untuk bahan silikon. “Ini adalah harga penjualan di tempat” sambung Hendrizal, yang di anggukan Budi.

Menurut Nasir, kebutuhan bahan baku hingga saat ini tak ada masalah, kapas sintetis silikon dan dakron dipesan melalui penyedia barang dari Bandung, setiap pengiriman ada 4 sampai 10 ball sampai ke Sawahlunto. Inilah yang menghasilkan bantal dan kasur dengan merk dagang “Linkaber Pillow” alias bantal lingkaran kawat berduri.

Karena awalnya ingin coba-coba, tapi justru laris manis, Ka Lapassus Nasir belum mampu merealisasikan keutuhan sarana sesuai usulan Budi dan rekan-rekannya untuk menambah kebutuhan 5 mesin jahit, 1 mesin penggiling dakron, 2 vacum cleaner dan 1 mesin press pplastik.

“Insya Allah, kami akan sampaikan hal ini ke Kanwil Kemenkumham Sumbar di Padang. Kami belum bisa mengadakan peralatan tersebut karena terbentur sumber biaya yang tak ada” ungkap Nasir.

Respon Kanwil

Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham Sumbar Sunar Agus,Bc.Ip,SH,MH yang di hubungi koran ini melalui saluran telepon, Jumat (12/7) mengapresiasi upaya yang di bangun Kalapassus Narkotika Sawahlunto tersebut.

Sunar Agus mengatakan, saat ini pembinaan dan peningkatan kualitas napi harus ditingkatkan, peluang apapun yang ada diwilayah kerja lapas masing-masing Lapas harus bisa di kembangkan. Jika di Lapassus Sawahlunto memproduksi bantal, maka ini adalah salahsatu contoh inovasi yang harus di tumbuhkembangkan setiap Lapas.

“Soal kekurangan peralatan, nanti akan kami sampaikan ke Kemenkumham di Jakarta. Yang jelas, setiap kegiatan yang memiliki potensi untuk di tumbuhkembangkan setiap Lapas akan kami perjuangkan ke Kemenkumham”: katanya singkat dan padat. (id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *