BERITA UTAMA KABAR SUMBAR PAYAKUMBUH

Perantau IKK Pulang Kampung Ibarat Sitawa Sidingin Bagi Masyarakat, Utamakan Anak Yatim

Payakumbuhpos.id |Payakumbuh--- Luar biasa, perantau Ikatan keluarga Koto Nan Godang (IKK) pulang kampung ibarat sitawa sidingin bagi masyarakat, utamakan anak...
BERITA UTAMA KABAR SUMBAR PAYAKUMBUH

Ketua IKK Joni Hendri Lepas Perantau Pulang Basamo

Payakumbuhpos.id|Jakarta - Salah satu sunnah dalam safar yang dianjurkan oleh syariat dan bisa meringankan kesusahan safar adalah melakukan safar di...
BERITA UTAMA KABAR SUMBAR Nasional

Berkat Kepedulian Presiden RI Terpilih Prabowo Subianto, Perantau Suayan Tiba Dikampung Halaman

Payakumbuhpos.id|Limapuluh Kota--- Perantau Suayan Jakarta sampai dikampung halaman (nagari Suayan), kecamatan Akabiluru, kabupaten Limapuluh Kota, disambut langsung Walinagari Suayan, Irwanul...
BERITA UTAMA

Safari Berbagai Daerah di Riau, Marta Uli Emmelia: UMKM Prioritas Utama Serikat Pekerja Kerah Biru

Jakarta - Ketua Bidang Ekonomi dan Bisnis Federasi Serikat Pekerja Kerah Biru (FSP Kerah Biru), Marta Uli Emmelia mengajak pekerja...
BERITA UTAMA

PAC Pasar Minggu Bersama BP2MI Sosialisasikan Penempatan dan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia

Teks foto; Ketua PAC Pasar Minggu, Musta'in (ist) JAKARTA - Pimpinan Anak Cabang (PAC) Pemuda Pancasila Kecamatan Pasar Minggu yang...

Puluhan Hektare Sawah di Koto Baru Terancam Gagal Panen

DHARMASRAYA – Puluhan hektare sawah yang ditanami padi di Jorong Sebrang Piruko Timur Nagari Koto Baru Kabupaten Dharmasraya terancam gagal hidup akibat kekeringan yang terjadi satu bulan terakhir. Puncaknya memasuki memasuki musim kemarau tahun ini. Jumlah ini berpotensi akan terus meningkat.

Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan, sekitar 22 hektar luas sawah yang terancam gagal panen padi karena mengalami kekeringan. Akibat musim kemarau yang terjadi salama ini,Kondisi tersebut terjadi di daerah Rawang Bakung Kecamatan Koto Baru kabupaten Dharmasraya Sumatera Barat.”

Salah seorang petani Samsu (54) yang di temui awak media pada hari selasa (13/08) mengatakan Jika kemarau ini berlanjut hingga September, besar kemungkinan puluhan hektare sawah yang kini sudah mengalami kekeringan itu mengalami puso hingga gagal panen. Apalagi, untuk tanaman yang usia tanamnya masih di bawah 50 hari pada areal-areal sawah tadah hujan,” Ujar Samsu pemilik sawah.

Di tambahkan Samsu (54) pemilik sawah yang mengalami kekringan menyebutkan, sawah yang ditanami padi mulai kekeringan dan sawah mulai retak retak dan akan mengakibatkan gagal penen karena sampai saat ini air irigrasi belum juga masuk ke sawah kami,karena selama ini sawah kami sawah tadah hujan, dan sebagian besar di antaranya jauh dari aliran sungai dan sumber air lainnya.

“Hingga saat ini, saya dan petani lainnya masih terus mengupayakan penyelamatan lahan dengan bantuan pompa air dengan mesin rubin yang disewa dan gilir giring air dari sumber-sumbe air yang ada di sekitarnya,” ujar Samsu
Menjelaskan bahwa saat ini sawah miliknya terancam gagal panen, bahkan untuk menanam saja harus di tanjak terlebih dahulu.

“Saking keringnya sawah, kami harus menanjak sawah menggunakan tugal. Tugal diperlukan untuk melubangi permukaan tanah tempat benih ditanam,” jelasnya.

Biaya sudah habis lebih kurang Rp 6 Juta akan terancam rugi kalu kekeringan ini terus berlanjut. Belum lagi biaya sewa mesin rubin untuk memasukkan air selama ini.

“Saat ini kami menyewa mesin rubin selama tiga hari, biaya sewanya Rp. 50.000 per hari, belum lagi beli benih baru, dan upah nanam,” jelasnya Pamen sebelumnya, sawah Samsu menghasilkan padi sebanyak 45 karung isi 30 gantang / 60 Kg atau 2.7 ton padi dengan biaya tanam RP 4 Jutaan.(eko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *