BERITA UTAMA

Dorongan Penyegaran di Golkar Payakumbuh Menguat, Wirman Putra Dinilai Paling Siap Pimpin DPD II

Wirman Putra Datuak Rajo Mantiko Alam Ketua DPRD Payakumbuh (ist) PAYAKUMBUH — Jelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kota Payakumbuh,...
BERITA UTAMA

Sejarah Baru, Payakumbuh di Bawah Wako Zulmaeta Sukses Gelar Indonesia’s Horse Racing Cup II.

Payakumbuh—PAYAKUMBUHPOS, Sejarah baru tercipta di dunia pacu kuda Indonesia. Untuk pertama kalinya, Indonesia's Horse Racing Cup yang selama ini hanya...
BERITA UTAMA

Rezka Oktoberia Meski Tak Lagi di DPR RI, hadirkan 26 Titik Irigasi P3TGAI di Payakumbuh dan Lima Puluh Kota.

LIMA PULUH KOTA — Meski tidak lagi menjabat sebagai anggota DPR RI, kepedulian Rezka Oktoberia terhadap masyarakat tidak pernah pudar....
BERITA UTAMA

Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta Resmi Menutup Kejuaraan Tenis Meja 2025.

PAYAKUMBUH — Kejuaraan Tenis Meja Piala Wali Kota Payakumbuh 2025 resmi berakhir, Minggu (10/8), di GOR Nan Ompek, Tanjung Pauh....
BERITA UTAMA

Marta Emmelia Bongkar Dugaan Pemalsuan Saham oleh Suami, Polisi Anggap Urusan Pribadi.

Pekanbaru — Laporan dugaan pemalsuan tanda tangan yang melibatkan nama seorang notaris dan seorang suami, berakhir di meja penyidik dengan...

Puluhan Hektare Sawah di Koto Baru Terancam Gagal Panen

DHARMASRAYA – Puluhan hektare sawah yang ditanami padi di Jorong Sebrang Piruko Timur Nagari Koto Baru Kabupaten Dharmasraya terancam gagal hidup akibat kekeringan yang terjadi satu bulan terakhir. Puncaknya memasuki memasuki musim kemarau tahun ini. Jumlah ini berpotensi akan terus meningkat.

Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan, sekitar 22 hektar luas sawah yang terancam gagal panen padi karena mengalami kekeringan. Akibat musim kemarau yang terjadi salama ini,Kondisi tersebut terjadi di daerah Rawang Bakung Kecamatan Koto Baru kabupaten Dharmasraya Sumatera Barat.”

Salah seorang petani Samsu (54) yang di temui awak media pada hari selasa (13/08) mengatakan Jika kemarau ini berlanjut hingga September, besar kemungkinan puluhan hektare sawah yang kini sudah mengalami kekeringan itu mengalami puso hingga gagal panen. Apalagi, untuk tanaman yang usia tanamnya masih di bawah 50 hari pada areal-areal sawah tadah hujan,” Ujar Samsu pemilik sawah.

Di tambahkan Samsu (54) pemilik sawah yang mengalami kekringan menyebutkan, sawah yang ditanami padi mulai kekeringan dan sawah mulai retak retak dan akan mengakibatkan gagal penen karena sampai saat ini air irigrasi belum juga masuk ke sawah kami,karena selama ini sawah kami sawah tadah hujan, dan sebagian besar di antaranya jauh dari aliran sungai dan sumber air lainnya.

“Hingga saat ini, saya dan petani lainnya masih terus mengupayakan penyelamatan lahan dengan bantuan pompa air dengan mesin rubin yang disewa dan gilir giring air dari sumber-sumbe air yang ada di sekitarnya,” ujar Samsu
Menjelaskan bahwa saat ini sawah miliknya terancam gagal panen, bahkan untuk menanam saja harus di tanjak terlebih dahulu.

“Saking keringnya sawah, kami harus menanjak sawah menggunakan tugal. Tugal diperlukan untuk melubangi permukaan tanah tempat benih ditanam,” jelasnya.

Biaya sudah habis lebih kurang Rp 6 Juta akan terancam rugi kalu kekeringan ini terus berlanjut. Belum lagi biaya sewa mesin rubin untuk memasukkan air selama ini.

“Saat ini kami menyewa mesin rubin selama tiga hari, biaya sewanya Rp. 50.000 per hari, belum lagi beli benih baru, dan upah nanam,” jelasnya Pamen sebelumnya, sawah Samsu menghasilkan padi sebanyak 45 karung isi 30 gantang / 60 Kg atau 2.7 ton padi dengan biaya tanam RP 4 Jutaan.(eko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *