BERITA UTAMA

Pelepasan dan Perpisahan Kelas VI SD Plus Muhammadiyah Diwarnai Ketua LKAAM Payakumbuh

  Teks foto: Ketua LKAAM Payakumbuh Yendri Bodra Dt. Parmato Alam kepada 61 siswa kelas VI SD Plus Muhammadiyah Payakumbuh...
BERITA UTAMA

Bintang Utama Bantai KBS di LJP

Teks foto: SSB KBS dibantai SSB Bintang Utama dengan skor 0-6, di lapangan kelurahan Koto Baru, kecamatan Payakumbuh Timur, Jumat...
BERITA UTAMA

Bukti Rasa Syukur, Masyarakat Sijunjung Gelar Tradisi Bakaua Adat di Los Tobek

Sijunjung,Payakumbuhpos - Bakaua Adat adalah sebentuk tradisi yang ada dimasyarakat Minang Kabau, khususnya Kabupaten Sijunjung sebagai bentuk rasa syukur kepada...
BERITA UTAMA

DPD Pappri Sumbar Himpun Dana Bencana Alam Sumatera Barat

Teks foto: Kru Pappri Sumbar ikut sakaki menghimpun pencarian dana bencana alam Sumatera Barat.       Payakumbuhpos.id | Payakumbuh-- Pasca...
BERITA UTAMA

Disorot Fraksi Golkar, Habiskan APBD Rp1,5 M, Kini Incinerator Sudah Menjadi Besi Tua

Teks foto: Wirman Putra-Juru Bicara Fraksi Golkar DPRD kota Payakumbuh.       Payakumbuhpos.id | Payakumbuh--- Gaung kasus incinerator di RSUD...

Prilaku LGBT di Sumbar Memprihatinkan

Padang, payakumbuhpos.com – Ancaman keseriusan persoalan prilaku menyimpang Lesbian, Gay, Bisexual dan Trangender (LGBT) di Sumatera Barat perlu menjadi perhatian bersama seluruh komponen masyarakat. LGBT telah merusak generasi muda Sumbar, dimana data Tim Konselor Sumbar Januari – Maret 2018 meningkatkanya angka Kasus HIV Aids 10.507 orang di Sumbar.

Hal ini disampaikan Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit pada saat membuka acara Desiminasi Inovasi Daerah, Ancaman LGBT, Antisipasi serta Penanganannya di Sumatera Barat di Auditorium Gubernuran, Sumbar Kamis (27/12/2018).

Hadir dalam kesempatan itu, Ketua Komisi V DPRD Sumbar, Rektor Perguruan Tinggi, Ketua Pengadilan Agama, Kakanwil Kementerian Agama, Asisten dan Beberapa Kepala Oraganisasi Perangkat Daerah (OPD) Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM), Bundo Kanduang, Ketua Muhammadiyah, Lembaga Dakwah Indonesia, Wanita Muhammadiyah, Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia, Kepala Sekolah, Guru SMA, SMK, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Komunitas, Kelompok Masyarakat se-Sumatera Barat.

Lebih lanjut wagub Nasrul Abit menyampaikan, kira-kira penghujung tahun 2017 kita dikejutkan oleh pemberitaan media massa terkait perkembangan prilaku LGBT Sumbar yang angka cukup besar dan mencoreng Ranah Minang yang dikenal dengan filosofi Adat Bansani Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ASB-SBK).

Terhadap pemberitaan itu kita sikapi dengan memerintahkan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) untuk melakukan kajian. Dan terungkap LGBT seolah-olah sebagai gaya hidup yang disamarkan sebagai prilaku menyimpang. Penyebaran dilakukan secara massif dan berkembang dengan peningkatan yang signifikan di beberapa kabupaten/kota di Sumbar.

Sejarah seringkali mengalami pengulangan, kaum Luth pernah dihancurkam Allah karena prilaku LGBT. Tentunya kita tidak ingin terjadi di Sumatera Barat, untuk itu mari katakan tidak untuk LGBT dan kita perangi bersama prilaku LGBT dengan langkah-langkah kongkrit guna memusnahkan prilaku LGBT di Sumbar, himbau Wagub Nasrul Abit.

Nasrul Abit juga mengatakan, Pemprov Sumbar bersama DPRD saat ini sedang melakukan proses penyiapan regulasi guna menekan dan mengendalikan LGBT di Sumbar. Kita bangga dan senang baru Pemko Pariaman telah ada Peraturan Daerah (Perda) LGBT.

Mungkin kabupaten/kota yang lain bisa belajar ke Pariaman. Karena saat ini sasaran dari Pelaku LGBT mencari korban anak-anak yang sedang mencari jati diri, SMP,SMA Mahasiswa dan parahnya korban biasanya terjerat jadi pelaku dan mencari korban berikutnya.

Kita tentu tidak berkeinginan generasi muda Sumatera Barat rusak parah karena pengaruh buruk LGBT. Untuk itu perlu antisipasi dini, orang tua, guru, dosen dan staf pengajar lainnya sebagai benteng masuk pengaruh LGBT, seru Nasrul Abit.

Kepala Balitbang Dr. Reti Wafda, MTP, dalam kesempatan itu menyampaikan, persoalan LGBT amat berkaitan dengan peningkatan jumlah penderita HIV/Aids yang tiap tahun terus mengalami peningkatan yang amat memprihatinkan kita.

Hasil Survei Terpadu Biologis Perilaku dari Tahun 2007, 2011 dan 2015 terlihat bahwa: PrevalensiHIV tertinggi terlihat pada thn 2015 adalah pada kelompok penasun, tetapi prevalensi menurun dibandingkan dengan prevalensi tahun 2007 dari 52.4% turun menjadi 28,78%. Sedangkan pada kelompok LSL terlihat ada peningkatan prevalensi, pada thn 2007 sebanyak 5,33% meningkat pada tahun 2015 menjadi 25,80%, ungkapnya

Reti juga menyampaikan untuk butuh arak kebijakan terpadu dalam menyikapi kondisi ini yang terintegrasi, komprehensip, berkesinambungan dalam penanggulangan LGBT dan HIV Aids.

Kedua kebijakan rencana aksi kegiatan yang mengimplementasikan dengan melibatkan semua pihak. Dan adanya regulasi kebijakan dalam upaya penanggulangan LGBT dan HIV/Aids, terangnya. (zs/jen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *