PBB Payakumbuh Gerak Cepat Bantu Korban Bencana di Kabupaten Lima Puluh Kota.
Payakumbuh — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Bulan Bintang (PBB) Kota Payakumbuh menginstruksikan seluruh pengurus dan kader untuk mempercepat respons penanganan bencana yang melanda Kabupaten Lima Puluh Kota. Ketua DPC PBB Payakumbuh, Nasmi, menegaskan bahwa struktur partai di seluruh tingkatan—baik di Kota Payakumbuh maupun Kabupaten Lima Puluh Kota—harus segera menyiapkan langkah penggalangan dana dan bantuan demi meringankan beban masyarakat terdampak.
Menurut Nasmi, delapan kecamatan tercatat mengalami dampak bencana, dengan tingkat kerusakan terparah di Gunung Omeh, Bukit Barisan, dan Suliki. Tiga wilayah tersebut disebut menghadapi bencana dengan skala besar dan merata.
Pada Jumat sore, 12 Desember 2025, jajaran PBB menggelar rapat koordinasi di markas PAC untuk merumuskan langkah cepat di lapangan. Rapat tersebut memetakan sejumlah lokasi yang masih sulit diakses dan menetapkan upaya yang akan diambil partai dalam waktu dekat.
“PAC Partai Bulan Bintang Kota Payakumbuh telah membahas peran yang bisa kami ambil untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak,” ujar Nasmi. Ia menambahkan bahwa beberapa titik bencana di Gunung Omeh, Suliki, dan Bukit Barisan masih sangat memerlukan uluran tangan.
Sebagai tindak lanjut, DPC PBB menginstruksikan seluruh kader agar turun langsung ke lokasi terdampak pada Minggu, 21 Desember 2025. Sementara itu, proses penggalangan dana akan segera dilakukan untuk memastikan bantuan logistik dapat tersalurkan sesuai kebutuhan warga.
Nasmi menegaskan bahwa PBB akan terus hadir bersama masyarakat yang mengalami kesulitan, serta menentukan skala prioritas bantuan agar penyaluran lebih tepat sasaran. Ia juga menyampaikan bahwa sejak hari pertama rangkaian bencana terjadi di Sumatra Barat, PBB telah memantau kondisi secara intensif—mulai dari longsor, banjir, hingga putusnya akses jalan di Ayiah Angek dan sejumlah wilayah lainnya, termasuk Pangkal dan Kapur IX.
Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah daerah di Indonesia dilanda bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem. Kerusakan infrastruktur, gangguan komunikasi, hingga meningkatnya kebutuhan bantuan kemanusiaan terus menjadi perhatian PBB di tingkat daerah.
(FajriHR).













