BERITA UTAMA

Dorongan Penyegaran di Golkar Payakumbuh Menguat, Wirman Putra Dinilai Paling Siap Pimpin DPD II

Wirman Putra Datuak Rajo Mantiko Alam Ketua DPRD Payakumbuh (ist) PAYAKUMBUH — Jelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kota Payakumbuh,...
BERITA UTAMA

Sejarah Baru, Payakumbuh di Bawah Wako Zulmaeta Sukses Gelar Indonesia’s Horse Racing Cup II.

Payakumbuh—PAYAKUMBUHPOS, Sejarah baru tercipta di dunia pacu kuda Indonesia. Untuk pertama kalinya, Indonesia's Horse Racing Cup yang selama ini hanya...
BERITA UTAMA

Rezka Oktoberia Meski Tak Lagi di DPR RI, hadirkan 26 Titik Irigasi P3TGAI di Payakumbuh dan Lima Puluh Kota.

LIMA PULUH KOTA — Meski tidak lagi menjabat sebagai anggota DPR RI, kepedulian Rezka Oktoberia terhadap masyarakat tidak pernah pudar....
BERITA UTAMA

Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta Resmi Menutup Kejuaraan Tenis Meja 2025.

PAYAKUMBUH — Kejuaraan Tenis Meja Piala Wali Kota Payakumbuh 2025 resmi berakhir, Minggu (10/8), di GOR Nan Ompek, Tanjung Pauh....
BERITA UTAMA

Marta Emmelia Bongkar Dugaan Pemalsuan Saham oleh Suami, Polisi Anggap Urusan Pribadi.

Pekanbaru — Laporan dugaan pemalsuan tanda tangan yang melibatkan nama seorang notaris dan seorang suami, berakhir di meja penyidik dengan...

Payakumbuh, Lebaran dan Macet

Payakumbuh – Tak terasa Ramadhan 1447 H berlalu begitu cepat. Hari berputar dan tanpa sadar kita telah menjalani puasa hampir seminggu lamanya.

Kesibukan ibadah wajib dan sunnah ikut mewarnai suasana masjid dan kediaman masyarakat. Giat dan aktifitas umat tertuju pada satu cita dan harapan akan datangnya hari kemenangan. Secara perlahan ingatan tertuju dan membawa pikiran, perasaan kepada satu tempat yang selalu dirindukan yaitu kampuang halaman tacinto, Maksudnya (kampung halaman yang begitu dicintai red).

Bagi saya pribadi, yang biasa hidup dirantau setiap Ramadhan selalu menghadirkan kerinduan yang sama terhadap sebuah kota yang begitu indah bernama Payakumbuh biasa disebut Payokumbuah.

Kota ini bukan sekadar tempat kelahiran tetapi juga tempat dimana kenangan tumbuh, nilai kehidupan ditanamkan sedari kecil, dan jati diri dibentuk dalam sebuah masyarakat. Kota tempat tumbuh dan berkembang serta menuntut ilmu sampai jenjang sekolah menengah atas yang sekarang disebut SMU.

Payokumbuah pernah dikenal sebagai kota yang berhasil meraih Piala Adipura, sebuah kebanggaan yang menjadi bukti keseriusan dalam menjaga kebersihan dan ketertiban lingkungan. Julukan Kota “BATIAH” akronim dari Bersih,Aman,Tertib,Indah, Asri dan Harmonis menjadi gambaran cita-cita yang melekat dalam perjalanan kota.

Payokumbuah juga lebih cenderung dan semakin dikenal sebagai Kota Randang karena randang sebutan untuk rendang merupakan sebuah makanan khas Minang, dan makanan ini banyak diproduksi anak nagori, kemudian dipromosikan ke daerah lain sebagai oleh oleh khas dari Payokumbuah. Julukan kota randang (resmi atau tidak maaf saya tidak tahu persis). Julukan itu lebih mengarah pada sebuah identitas yang lahir dari kekuatan tradisi dan ketekunan masyarakatnya dalam berkarya, sebagai pelaku UMKM (home industry)

Nasyarakat Payokumbuah juga gemar merantau dan tradisi marantau ke daerah lain ini tidak bisa dipungkiri atau diabaikan. Dari sekian banyak perantau, ada yang pergi jauh dari kampung sehingga jarang pulang atau tidak pernah pulang kampung. Perantau seperti ini dijuluki dengan istilah, “marantau cino” namun sebagian juga ada yang merantau ke provinsi tetangga dengan istilah, “marantau baliak dapua” sehingga gampang serta sering pulang kampung.

Ketika mereka, para perantau ini ramai kembali ke kampung untuk liburan atau lebaran, jelas membuat suasana kampung menjadi lebih padat dan potensi akan kemacetan di jalan raya sampai ke gang, lorong di tengah kampung.Kemacetan disebabkan karena kebanyakan perantau pulang membawa kendaraan pribadi berupa motor ataupun mobil.

Memasuki bulan Ramadhan, hampir disetiap tempat termasuk Payokumbuah, kehidupan masyarakat terasa lebih hidup dalam nuansa yang berbeda. Masjid dan mushalla kembali ramai, lantunan ayat suci terdengar lebih sering, dan waktu berjalan seolah lebih singkat dari biasanya. Menjelang waktu berbuka, masyarakat mulai keluar rumah. Ada yang mencari hidangan berbuka, ada pula yang sekadar berjalan santai tanpa tujuan yang pasti namun lebih ke arah menikmati suasana sore, atau yang biasa disebut dengan ungkapan, malengah-lengah puaso, (ngabuburit)

Suasana seperti ini menghadirkan kehangatan tersendiri, sekaligus menjadi pertanda bahwa Ramadhan membawa kehidupan sosial yang lebih dinamis.
Namun, suasana itu biasanya mencapai puncaknya ketika Idul Fitri yang semakin dekat.

Perantau mulai pulang kampung berdatangan dari berbagai daerah meramaikan wilayah jauh, dekat dan juga dari negara lain mancanegara.

Jalan menjadi lebih ramai, jumlah kendaraan meningkat, dan kota kembali dipenuhi oleh wajah yang pulang membawa kerinduan terhadap sanak keluarga, saudara dan lingkungan yang penuh kenangan dimasa lalu.

Tradisi pulang kampung ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak dahulunya, sebagaimana diungkapkan dalam petuah lama _karatau madang di hulu, babuah babungo balun; marantau bujang dahulu, di kampuang paguno balun._

Terus terang, setiap kali datangnya libur atau lebaran, tanpa sadar dan otomatis, sekilas terbayang sebuah kemacetan ketika berada kampung. Perasaan selalu bercampur aduk antara bahagia dan cemas bahkan malas. Ya, ada rasa rindu tetapi malas untuk pulang ke kampung halaman sendiri. Tentu semuanya punya alasan. Bahagia karena saat pulang ke kampung halaman buat lebaran dan bersilaturahmi merayakan hari kemenangan kembali hidup. Indahnya kebersamaan dengan penuh semangat dan kegembiraan adalah sesuatu yang sangat dirindukan. Namun di sisi lain, ada kekhawatiran yang tidak dapat diabaikan, yaitu kemacetan lalu lintas yang hampir selalu terjadi setiap tahun. Jika membayangkan suasana macet ini, seakan melunturkan niat berlebaran karena macet membatasi mobilitas dihari besar keagamaan ini.

Sungguh, kemacetan ini bukan lagi hal yang asing dan seakan menjadi langganan rutin tiap tahun tetapi selalu menjadi momok di hati yang sulit dihilangkan. Bahkan beberapa orang perantau memilih untuk tidak pulang selama musim lebaran dan kemudian ketika suasana kembali normal seperti biasa, mereka baru pulang. Kesimpulan mereka bahwa, untuk apa pulang kalau hanya untuk bermacet macetan sementara tidak bisa keluar rumah ingin bepergian dan silaturahmi .

Jalan utama yang menghubungkan Payokumbuah dengan berbagai wilayah di Sumatera Barat sering dipenuhi kendaraan dalam jumlah besar. Bahkan pada waktu tertentu, kemacetan dapat berlangsung cukup lama yang sulit diurai petugas berwenang.

Waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk bersilaturahmi bersama keluarga justru habis di perjalanan.
Barangkali, kondisi ini merupakan konsekuensi dari meningkatnya jumlah kendaraan yang tidak lagi sebanding dengan kapasitas jalan yang tersedia. Di samping itu, kedisiplinan pengguna jalan juga menjadi faktor yang tidak kalah penting. Ketidaksabaran dan keinginan untuk mendahului sering kali memperburuk keadaan yang sudah padat.

Sebagai seseorang yang lahir dan memiliki ikatan batin begitu kuat dengan Payokumbuah, saya memandang persoalan ini bukan sekadar persoalan lalu lintas biasa, tetapi juga bagian dari tanggung jawab bersama pemerintah dan masyarakat dalam menjaga kenyamanan kota.

Pemerintah daerah tentu diharapkan dapat terus berupaya mencari solusi, baik melalui perbaikan infrastruktur, pengaturan lalu lintas yang lebih efektif, maupun perencanaan jangka panjang yang lebih matang.

Pada saat yang sama, kesadaran masyarakat untuk tertib dan saling menghormati di jalan juga menjadi hal yang sangat penting.

Payokumbuah telah memiliki identitas dan kebanggaan yang kuat sejak dahulu. Nilai serta julukan lama kota _BATIAH_ bukan sekadar kenangan, tetapi seharusnya menjadi arah dalam membangun masa depan.
Kota ini layak untuk terus tumbuh menjadi kota yang nyaman, tertib, dan membanggakan bagi generasi yang akan datang.

Pada akhirnya, setiap perantau hanya ingin pulang dengan perasaan tenang. Pulang bukan sekadar kembali secara fisik sementara jiwanya terpatri dengan pikiran akan rumitnya kemacetan, akan tetapi para perantau pulang dengan membawa arti lebih dalam yakni kembali kepada bagian dari diri sendiri pada daerah dengan sejuta kenangan yang yang tak terlupakan.

Memang diakui bahwa persoalan ini bukan hanya terjadi di Payokumbuah namun dihampir seluruh kota dimanapun tetapi sebagai masyarakat tidak ada salahnya jika harapan ini segera dituntaskan. Mohon kiranya pemerintah kota Payokumbuah semakin bersemangat dan lebih banyak berbuat pada sektor riil ini. Diharapkan ke depan, perjalanan pulang kampung ke Payokumbuah tidak lagi dibayangi oleh kelelahan di jalan, tetapi menjadi perjalanan yang penuh makna. Semoga!

Gusnazir UAN Adi Azmar
(Kampuang Maimbau Pulang)

Penulis dan pemerhati sosial asal Payakumbuh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *