BERITA UTAMA

Elang Zanura Harumkan Nama SMPN 1 Kecamatan Situjuh Limo Nagari di Tingkat Nasional

Teks foto: Elang Zanura- Siswa kelas 9 SMPN 1 kecamatan Situjuh Limo Nagari.       Payakumbuhpos.id | Limapuluh Kota---Raih...
BERITA UTAMA

Wulan Denura Ajak Warga Payakumbuh Melihat Sejarah Nenek Moyang Kita, Dulu Seperti Apa?

Payakumbuhpos.id | Limapuluh Kota--- Pameran Festival Maek, kecamatan Bukik Barisan, kabupaten Limapuluh Kota Sumatera Barat, dibuka langsung ketua DPRD Sumatera...
BERITA UTAMA

Bawaslu Kota Bukittinggi Melantik 129 Anggota PTPS Se-Kecamatan Guguk Panjang

Bukittinggi, Payakumbuhpos.id,-- Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Bukittinggi melaksanakan pelantikan dan pembekalan Pengawas Tempat Pemungutan Suara (PTPS) se-Kecamatan Guguak Panjang,...
BERITA UTAMA

Bantai Minang Sejagat 3-0, ISSB Payakumbuh Raih Juara I di Turnamen Pospa Cup II

Payakumbuhpos.id| Payakumbuh---Diawali dengan membantai Minang Sejagat 3-0, akhirnya ISSB Payakumbuh keluar sebagai juara I U-14 setelah mengalahkan Victory 4-3 dalam...
BERITA UTAMA

Wulan Denura : Anggota Paskibraka Pondasi dalam Mencapai Cita-cita Kedepan

Teks foto: Wakil ketua DPRD kota Payakumbuh, Wulan Denura, S.ST.     Payakumbuhpos.id|Payakumbuh--- Tiap tahun, tepatnya pada tanggal 17 Agustus,...

Pak Cik Ditunjuk, Jadi Ketua Panitia Pelaksana Rembuk Nasional Aktivis 98

JAKARTA, payakumbuhpos.com
“Rembuk Nasional yang akan diikuti 50 ribu aktivis 98 dari seluruh Indonesia diselenggarakan dengan tujuan memusyawarahkan pemikiran dan menyatukan langkah untuk menegaskan pentingnya menyelamatkan ke-Indonesian,” kata Sayed Junaidi Rizaldi bin Abdul Rahman Al-Hinduan, juru bicara Rembuk Nasional 50.000 Aktivis 98 di Jakarta, Minggu (3/6).

Menurut Sayed, setelah 20 tahun mengawasi jalannya reformasi, ternyata kelompok yang ingin memaksakan kehendaknya untuk mengubah dasar dan ideologi negara menciptakan intoleransi, radikalisme, hingga terorisme. Ini merupakan musuh bersama seluruh elemen rakyat Indonesia, termasuk aktvis 98.

“Kami secara bersama memandang tidak boleh diam, aktivis 98 harus meluruskan dan melawan radikalisme, intoleransi, dan terorisme yang terus menurus mengikis orientasi kebangsaan rakyat Indonesia,” katanya.

Fenomena “bomber family” beberapa waktu lalu di Surabaya, Jawa Timur, dinilai aktivis 98 merupakan bukti bahwa ini sangat mengancam ke-Indonesian kita. Ini juga diperparah dengan sikap ambigunya para elit politik dalam merespon soal ancaman tersebut.

Bahaya radikalisme, intoleransi, dan terorisme bukan hayalan. Selain beberapa bukti aksi intoleransi, radikalisme, dan terorisme juga sejalan dengan hasil survei Wahid Institut tentang Radikalisme dan Intoleransi yang melibatkan 1.520 responden pada 2017, menunjukan data yang membuat para aktivis miris.

Hasil surveinya, lanjut Sayed, sebanyak 11 juta orang atau 7,7% dari total populasi di Indonesia mau bertindak radikal. Dari survei tersebut juga diketahui 0,4% penduduk Indonesia atau sekitar 600 ribu orang pernah bertindak radikal.

Aktivis 98 memutuskan untuk melakukan Rembuk Nasional di Monas atas dua alasan. Pertama, soal ideologi. Bahwa intoleransi, radikalisme, dan terorisme telah mengancam Pancasila dan merusak nilai-nilai kemanusiaan.

Sikap ambigu elit politik juga akan membuat ujaran kebencian meluas dan mereka yang terpapar ini akan mudah berpotensi melakukan radikalisme. Akibatnya, gampang sekali mereka menyebar fitnah, salah satunya menuduh aparat keamanan merekayasa teror dan mengatakan pelaku teror sebagai korban.

Kedua, soal kondisi nasional. Bahwa radikalisme, intoleransi, dan terorisme telah menyebar ke segala lapisan sosial dan aparatur pemerintahan. Mereka yang sudah terpapar radikalisme, menjungkirbalikan fakta.

“Cara pandang mereka yang memonopoli kebenaran, membuat mereka menjadikan hakim bagi orang-orang yang berbeda dengan mereka. Kebhinekaan yang merupakan kekayaan dan kekuatan bangsa, justru hendak diseragamkan karena mereka memandang kebhinekaan sebagai musuh,” kata Sayed.

Bukan hanya itu, mereka yang sudah terpapar radikalisme juga mereduksi dan merusak nilai-nilai kemanusiaan, seiring hilangnya orientasi kebangsaan pada diri mereka. Situasi ini juga melanda lingkungan pendidikan dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.

“Berdasarkan latar belakang tersebut, aktivis 98 memutuskan untuk melakukan Rembuk Nasional,” katanya dalam acara konferensi pers yang hadiri puluhan aktivis 98 dari berbagai elemen dan universitas asal mereka pada 98 lalu.

(T2)
sumber-Gatra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *