BERITA UTAMA

Dorongan Penyegaran di Golkar Payakumbuh Menguat, Wirman Putra Dinilai Paling Siap Pimpin DPD II

Wirman Putra Datuak Rajo Mantiko Alam Ketua DPRD Payakumbuh (ist) PAYAKUMBUH — Jelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kota Payakumbuh,...
BERITA UTAMA

Sejarah Baru, Payakumbuh di Bawah Wako Zulmaeta Sukses Gelar Indonesia’s Horse Racing Cup II.

Payakumbuh—PAYAKUMBUHPOS, Sejarah baru tercipta di dunia pacu kuda Indonesia. Untuk pertama kalinya, Indonesia's Horse Racing Cup yang selama ini hanya...
BERITA UTAMA

Rezka Oktoberia Meski Tak Lagi di DPR RI, hadirkan 26 Titik Irigasi P3TGAI di Payakumbuh dan Lima Puluh Kota.

LIMA PULUH KOTA — Meski tidak lagi menjabat sebagai anggota DPR RI, kepedulian Rezka Oktoberia terhadap masyarakat tidak pernah pudar....
BERITA UTAMA

Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta Resmi Menutup Kejuaraan Tenis Meja 2025.

PAYAKUMBUH — Kejuaraan Tenis Meja Piala Wali Kota Payakumbuh 2025 resmi berakhir, Minggu (10/8), di GOR Nan Ompek, Tanjung Pauh....
BERITA UTAMA

Marta Emmelia Bongkar Dugaan Pemalsuan Saham oleh Suami, Polisi Anggap Urusan Pribadi.

Pekanbaru — Laporan dugaan pemalsuan tanda tangan yang melibatkan nama seorang notaris dan seorang suami, berakhir di meja penyidik dengan...

Kominfo Temukan, 30 Hoaks dan Disinformasi Terkait Kerusuhan 22 Mei

JAKARTA, Payakumbuhpos.com – Hoaks yang beredar mulai dari polisi asal Tiongkok hingga penembakan demonstran di dalam masjid di daerah Tanah Abang. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menemukan ada 30 hoaks dan informasi yang salah atau disinformasi selama 22-24 Mei 2019. Mayoritas disinformasi dan hoaks terkait kerusuhan 22 Mei di Jakarta.

Penyebaran hoaks seperti ini menjadi salah satu alasan Kominfo memutuskan untuk membatasi akses media sosial. Dari jumlah tersebut, 17 di antaranya merupakan hoaks dan sisanya adalah disinformasi. “Kementerian Kominfo mendorong masyarakat untuk melaporkan konten terkait aksi kerusuhan (22 Mei) di Jakarta melalui aduankonten.id,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo Ferdinandus Setu, kemarin (25/5). Hoaks yang beredar seperti adanya unggahan di Facebook, bahwa pengumuman Komisi Pemilihan Umum (KPU) senyap-senyap. Padahal, KPU sudah membantah pernyataan Calon Presiden (Capres) nomor urut 02 Prabowo Subianto yang menilai hasil rekapitulasi diumumkan secara senyap.

Lalu, ada pula hoaks berupa unggahan foto di Facebook yang memuat gambar anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) memakai kaus kaki Brimob. Foto tersebut diberi narasi bahwa anggota TNI tersebut adalah pasukan Brimob yang sedang menyamar. Faktanya, laki-laki pada foto tersebut memang anggota Marinir TNI Angkatan Laut (AL). Hoaks lainnya, unggahan video situasi di suatu Masjid di daerah Tanah Abang. Video itu diberi narasi bahwa Polisi menembaki demonstran yang berada di dalam Masjid, saat kerusuhan 22 Mei. Faktanya, suara tembakan yang terdengar di video tersebut berasal dari sekitar Masjid. Ada juga hoaks berupa unggahan video yang memuat tentang ditemukannya selongsong peluru senjata api yang digunakan oleh aparat polisi untuk menembak demonstran. Padahal, Polri sudah menegaskan bahwa anggotanya yang bertugas melakukan pengamanan di depan KPU pada 22 Mei 2019 hanya dibekali tameng dan gas air mata.

Kominfo juga menemukan hoaks yang berisi pernyataan Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto, bahwa demonstran menjadi sarana latihan berburu bagi TNI dan Polri. Faktanya,Wiranto tidak pernah menyampaikan pernyataan seperti itu. Selain itu, beredar hoaks berupa foto yang memuat gambar anggota polisi dengan mata sipit yang dituding bukan Warga Negara Indonesia (WNI). Beredar tuduhan bahwa polisi itu dari Tiongkok. Padahal, pemilik akun Facebook bernama Diana leni sudah mengonfirmasi bahwa laki-laki yang ada di foto tersebut adalah kerabatnya. Kominfo juga menemukan adanya disinformasi terkait kerusuhan 22 Mei di Jakarta. Salah satunya, informasi yang salah terkait pernyataan Kapolri Jenderal Tito Karnavian bahwa masyarakat boleh ditembak. Dalam video yang asli, Tito menyampaikan bahwa masyarakat yang dimaksud adalah anggota geng motor yang membawa senjata tajam untuk membunuh.

Ada juga disinformasi yang menyebutkan bahwa kantor Forum Pembela Islam (FPI) Petamburan diserang menggunakan gas air mata, peluru karet, dan peluru asli. Padahal, polisi tidak dibekali peluru tajam dalam pengamanan aksi 22 Mei di Jakarta. Dari 30 temuan hoaks dan disinformasi tersebut, tidak semua terkait kerusuhan 22 Mei di Jakarta. Misalnya, hoaks bahwa proyek One Belt One Road (OBOR) akan dijual ke Tiongkok. Ada juga hoaks bahwa Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan membentuk tentara Islam dan mengajak TNI untuk masuk.
(sumber Katadata.co.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *