BERITA UTAMA

Dorongan Penyegaran di Golkar Payakumbuh Menguat, Wirman Putra Dinilai Paling Siap Pimpin DPD II

Wirman Putra Datuak Rajo Mantiko Alam Ketua DPRD Payakumbuh (ist) PAYAKUMBUH — Jelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kota Payakumbuh,...
BERITA UTAMA

Sejarah Baru, Payakumbuh di Bawah Wako Zulmaeta Sukses Gelar Indonesia’s Horse Racing Cup II.

Payakumbuh—PAYAKUMBUHPOS, Sejarah baru tercipta di dunia pacu kuda Indonesia. Untuk pertama kalinya, Indonesia's Horse Racing Cup yang selama ini hanya...
BERITA UTAMA

Rezka Oktoberia Meski Tak Lagi di DPR RI, hadirkan 26 Titik Irigasi P3TGAI di Payakumbuh dan Lima Puluh Kota.

LIMA PULUH KOTA — Meski tidak lagi menjabat sebagai anggota DPR RI, kepedulian Rezka Oktoberia terhadap masyarakat tidak pernah pudar....
BERITA UTAMA

Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta Resmi Menutup Kejuaraan Tenis Meja 2025.

PAYAKUMBUH — Kejuaraan Tenis Meja Piala Wali Kota Payakumbuh 2025 resmi berakhir, Minggu (10/8), di GOR Nan Ompek, Tanjung Pauh....
BERITA UTAMA

Marta Emmelia Bongkar Dugaan Pemalsuan Saham oleh Suami, Polisi Anggap Urusan Pribadi.

Pekanbaru — Laporan dugaan pemalsuan tanda tangan yang melibatkan nama seorang notaris dan seorang suami, berakhir di meja penyidik dengan...
WISATA  

Kapolda Sumbar Irjen Fakhrizal: Pengabdian Tiada Batas Demi Ranah Minang

Oleh: Novrianto
Payakumbuhpos.com – Tiga tahun lebih menjabat orang nomor 1 di Kepolisian Republik Indonesia Daerah Sumatera Barat, Irjen Fakhrizal tanpa “cedera”, namun ada apa maka Kapolri mengantinya di saat Pilkada serentak akan digelar?

Kapolda ninik mamak, tokoh masyarakat dan juga idola banyak orang itu, tidak pernah memimpin Kepolisian dengan kekerasan, selalu memimpin dengam penuh perasaan dan ketegasan dalam bertindak serta bertingkah laku.

Fakhrizal tidak tinggi hati, dan jauh dari kata-kata sombong apalagi pongah, wajar kalau orang-orang yang berambisi dalam meraih kursi kekuasaan politik selalu berusaha menjatuhkannya, bahkan orang-orang ‘haus kuasa” melakukan berbagai cara untuk bisa melemahkan gerakan pengayoman pada masyarakat.

Turunnya Fakhrizal ke daerah-daerah dianggap para politiisi dari gerakan kampanye, padahal apa yang dilakukannya tidak lain merupakan fungsi utama Kepolisian yakni sebagai sosok pembina Kamtibmas.

Bagi Fakhrizal jabatan adalah amanah yang tidak perlu dikejar-kejar, jika sudah diamanahkan wajib untuk dijalankan sepenuh hati, meskipun efek buruk akan menimpa seperti saat ini.

Digantinya Fakhrizal sebagai Kapolda Sumbar merupakan efek dari pengabdian tulus dari jabatan yang diembannya, sehingga politisi berusaha menjatuhkannya dan melumpuhkan pengabdian selama ini.

Kapolda tanpa cedera itu menyadari semuanya, namun ‘haram’ baginya berhenti memberikan perhatian pada masyarakat, karena pengabdiannya pada negara lain tidak bermuara pada kepentingan masyarakat.

Jika institusi Polri tidak lagi mempercayainya sebagi pimpinan, mayoritas masyarakat membutuhkannya untuk memimpin institusi rakyat, yakni kepala daerah.

Penggantian Fakhrizal dianggap banyak orang amat tendensi, penuh tekanan dan intrik, padahal ia sosok akuntable serta bertanggung jawab.

Dia dikepung para politisi yang hanya butuh kekuasan tapi jauh dari pengabdian, karena dia sosok pengabdi bukan penguasa, pengayom bukan penekan, ninik mamak bukan serakah, wajar kalau para politisi berebut “membunuh” gerakannya.
(sumber; Tribun Sumbar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *