BERITA UTAMA

Elang Zanura Harumkan Nama SMPN 1 Kecamatan Situjuh Limo Nagari di Tingkat Nasional

Teks foto: Elang Zanura- Siswa kelas 9 SMPN 1 kecamatan Situjuh Limo Nagari.       Payakumbuhpos.id | Limapuluh Kota---Raih...
BERITA UTAMA

Wulan Denura Ajak Warga Payakumbuh Melihat Sejarah Nenek Moyang Kita, Dulu Seperti Apa?

Payakumbuhpos.id | Limapuluh Kota--- Pameran Festival Maek, kecamatan Bukik Barisan, kabupaten Limapuluh Kota Sumatera Barat, dibuka langsung ketua DPRD Sumatera...
BERITA UTAMA

Bawaslu Kota Bukittinggi Melantik 129 Anggota PTPS Se-Kecamatan Guguk Panjang

Bukittinggi, Payakumbuhpos.id,-- Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Bukittinggi melaksanakan pelantikan dan pembekalan Pengawas Tempat Pemungutan Suara (PTPS) se-Kecamatan Guguak Panjang,...
BERITA UTAMA

Bantai Minang Sejagat 3-0, ISSB Payakumbuh Raih Juara I di Turnamen Pospa Cup II

Payakumbuhpos.id| Payakumbuh---Diawali dengan membantai Minang Sejagat 3-0, akhirnya ISSB Payakumbuh keluar sebagai juara I U-14 setelah mengalahkan Victory 4-3 dalam...
BERITA UTAMA

Wulan Denura : Anggota Paskibraka Pondasi dalam Mencapai Cita-cita Kedepan

Teks foto: Wakil ketua DPRD kota Payakumbuh, Wulan Denura, S.ST.     Payakumbuhpos.id|Payakumbuh--- Tiap tahun, tepatnya pada tanggal 17 Agustus,...
WISATA  

Ingin Bermalam di Sawahlunto, Dosen dan Mahasiswa Malaysia Rogoh Kocek Sendiri

SAWAHLUNTO – Dr.Nurul Nazlia Jamil, bersama 22 mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Muamalat (FEM), Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), Negeri Sembilan Darul Khusus, Malaysia,  berkunjung dan bermalam di Kota Sawahlunto selama 3 hari dua malam (17-19/7).

Mereka disambut Sekdako Sawahlunto Drs.Rovanly Abdams,M.Si, Kadisdik Asril,S.Pd,M.Pd, dan sejumkah Staf Dinas Pariwisata setempat, setelah rombongan melakukan aktifitas sosial di berbagai pesantren dan perkampungan di Sumatera Barat, Indonesia.

Mereka memilih Sumatera Barat, karena ketertarikannya dengan panorama alam yang indah dan menawan, selain keramahtamahan masyarakat Minang Kabau yang dikenal sangat religius dan memiliki kedekatan historis dengan saudara serumpunnya di Negeri Sembilan.

Hal itu di kemukakan Dr.Nurul Nazlia, didampingi mahasiswinya Mardiah dan Nadirah, mahasiswa semester 6 jurusan acounting USIM, ketika di wawancarai harianindonesia.id Jumat (19/7).

Dikatakannya, selama di Sumatera Barat mereka melakukan aktifitas penyerahan bantuan ke Pesantren Buya Hamka di Maninjau, Kabupaten Agam, dan membagikan bantuan sosial untuk sejumlah masyarakat Desa Pagu-pagu, Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar.

Selain itu, sebutnya, mereka juga merajut silaturahmi dengan masyarakat setempat melalui aksi penanaman pohon mangga, melakukan pertandingan olahraga persahabatan, dan menikmati kegembiraan dengan permainan tradisional warga kampung itu.

Seluruh aktifitas yang mereka lakukan, merupakan bagian dari kegiatan organisasi kampus Global Islamic Student  Outreach (GISO) USIM disertai NGO Malaysian 4 WD Suhazlina Dt.Mohamed Samsudin, yang lebih memilih  destinasi Pasentren Buya Hamka Maninjau, Kampung Pagu-pagu Pandai Sikek, dan Ombilin Mining Heritage, Sawahlunto.

Khusus tujuan Sawahlunto, mereka ingin melihat dari dekat kota bekas penambangan batubara bawah tanah Tambang Ombilin (TBO) dengan   sejarahnya yang kini menarik perhatian dunia, setelah TBO meraih pengakuan sebagai Warisan Dunia UNESCO dalam sidang World Heritage Comitte di Azerbaikan 6 Juli 2019 silam.

“Kami tertarik datang kesini karena keberagaman budaya masyarakat Minang yang sangat religius,dibarengi dengan keramahtamahan warganya yang menyambut kami dengan tarian gelombang. Selain Sumatera Barat dihiasi panorama alam yang indah mempesona.” ungkap Nurul Nazlia.

Biaya mandiri

Meski mereka dari kampus, tapi biaya perjalanan mereka tanggung bersama. Masing-masing mahasiswa berkontribusi sebanyak RM 1.100 untuk bisa ikut dalam rombongan selama 7 hari. Untuk biaya perjalanan totalnya RM 30 ribu. 

“Alhamdulillah, dengan rajin menabung semua rencana bisa terlaksana dengan baik, sehingga untuk pertama kali, kami sampai di Sawahlunto dan tempat lain di Sumatera Barat yang berbeda suasana budayanya dengan kamai”.kata  Mardiyah dan Nadirah.

Sementara itu, Sekdako Rovanly Abdams mengatakan, sebuah pelajaran yang dapat di petikl hikmahnya dari tamu USIM ini. Mereka datang dengan biaya sendiri tanpa adanya bantuan dari pemerintahnya.

Melainkan dengan budaya menabung yang diterapkan untuk mahasiswanya, mereka mampu mengumpulkan uang untuk kegiatan edukatif, memberi bantuan sambil  belajar mengenal budaya masyarakat yang di kunjunginya. “saya sangat apresiasi dan patut kita contoh dan terapkan di lingkungan masyarakat kita.” ungkapnya. (id) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *