BERITA UTAMA

Ini Gugatan GPMania2024 ke PTUN Jakarta, Batalkan Pencapresan Prabowo-Gibran

Sunggul Hamonangan Sirait, SH, MH Payakumbuhpos.id -- Relawan Capres Ganjar Pranowo dan cawapres Mahfud MD, GP Mania 2024 Reborn meminta...
BERITA UTAMA

Bakor Paliko Pulang Kampuang, Gelar Sunatan Massal dan Bakti Sosial

PAYAKUMBUH - Perantau Minangkabau yang tergabung dalam Badan Koordinasi Ikatan Keluarga Payakumbuh-Limapuluh Kota (Bakor Paliko) Indonesia, Malaysia, dan Australia pulang...
BERITA UTAMA

Perjalanan Study Komparatif Wartawan Luak 50 Ke Kota Bertuah

Pekan Baru-- Keberangkatan rombongan wartawan Luak 50 Ke Kota Pekan Baru (Riau) merupakan agenda Study Komparatif yang dilaksanakan oleh Dinas...
BERITA UTAMA

Selain Tokoh Nasional HDI Sangat Peduli Terhadap Mahasiswa Luak Limopuluah Yang Berada di Pulau Jawa

Bogor--- Herman Darnel Ibrahim (HDI) selain tokoh nasional juga memiliki sebuah kepedulian terhadap para mahasiswa yang berasal.darii lLuak 50 yang...
BERITA UTAMA

Projo Ganjar Laporkan Budi Arie Setiadi ke Ketua Ombudsman Republik Indonesia

JAKARTA - Projo Ganjar yang diketuai oleh Nora Haposan Situmorang S.H.,Melaporkan Budi Arie Setiadi yang merupakan Menteri Komunikasi dan Informatika...

Fakhrizal Bahas Nasib Sepakbola Sumbar

Foto: Dok. Istimewa

PADANG – Belasan mantan pemain klub Sepakbola PSP Padang dan Semen Padang FC yang sudah lanjut usia duduk bersama dengan Mantan Kapolda Sumbar, Irjen Pol (Purn) Fakhrizal di lapangan Sepakbola Komplek Unand, Garut, Lubuk Kilangan, Kota Padang, Sabtu (10/10/2020). Para veteran sepakbola dua klub ternama Sumatera Barat ini terlibat diskusi panjang dengan Fakhrizal soal nasib Sepakbola Sumatera Barat yang kian hari kian tak menggairahkan.

Diskusi yang diadakan di warung Ayah depan Lapangan Bola, diawali dengan cerita panjang soal masa-masa gemilang sepakbola Sumbar tahun 1980-2000-an. Sampai akhirnya merosot setelah tahun 2010. Walaupun Semen Pasang FC sempat gemilang di tahun 2013 dengan menjuarai Liga Prima Musim 2013.

Ramlan, mantan pemain Semen Padang FC dan PSP Padang era tahun 1980-an menuturkan Sepakbola Sumbar saat ini sudah jauh menurun. Sangat sedikit bibit-bibit handal yang bisa ditonjolkan di tingkat nasional maupun internasional. Ini dikarenakan metode pengkaderan pemain, pelatih, dan wasit sudah jauh berbeda.

“Kualitas dan kuantitas sepakbola di Sumbar sudah jauh berbeda. Dulu, menumbuhkan bibit pesepakbola itu dengan kebersamaan. Sekarang dengan bayaran,” sebut Ramlan.

Dicontohkan Ramlan, dulu seluruh pemain di suatu klub diajarkan bagaimana berusaha bersama-sama. Tanpa menonjolkan individu siapa yang paling jago. Sekarang, antar pemain di sebuah klub sudah bersaing untuk menjadi yang terbaik. Ini dikarenakan sistem kontrak dengan nominal yang berbeda. Hal ini mematikan niat dan semangat calon-calon pesepakbola Sumbar.

“Dulu kami di kontrak dan digaji dengan nominal yang sama. Pembagian bonus pun sama. Bahkan official pun sama. Jadi terasa bagaimana suka dan pahit sama-sama. Terbangun satu tujuan untuk bersama-sama. Sekarang beda sekali karena sistem kontrak yang tinggi rendah. Alhasil sesama pemain malah bersaing dan tidak ada kekompakan,” ucapnya.

Dengan fenomena ini, Ramlan bersama veteran pesepakbola lainnya merasa miris dengan pola pengkaderan pemain sepakbola. Sebagian pemain masuk lapangan sudah terpengaruhi rupiah, bukan untuk prestasi atau kejayaan sepakbola Sumbar.

“Jadi inilah pokok persoalan bagaimana sepakbola di Sumbar itu menurun. Disamping ada juga persoalan lain,” ucap Ramlan dihadapan Fakhrizal.

Aspirasi para veteran sepakbola Sumbar ini pun dipahami oleh Fakhrizal. Sewaktu remaja dulu, Fakhrizal yang pernah masuk dalam squad PSP Junior di awal tahun 1989-an tahu Betul bagaimana pola pengkaderan calon pemain sepakbola.

“Iya. Pola didikan dan rangsangan kepada pemain memang sudah berubah. Akhirnya sekarang saya lihat, calon pemain yang kalah saing malah menjadi pesimis. Akhirnya semangat untuk mengasah skill tidak sepenuh hati lagi. Ini yang perlu dibenahi,” sebut Fakhrizal.

Selain faktor kemampuan, bagi Fakhrizal untuk seorang atlet harus terpenuhi juga faktor psikologis nya dalam tim. Seberapa pun hebatnya pemain tetapi tidak menyatu dengan rekan satu tim, untuk menorehkan prestasi itu akan sangat sulit.

Karena itulah jika Fakhrizal dipercaya menjadi Gubernur Sumbar tahun 2021-2024, persoalan sepakbola Sumbar akan dibenahi. Akan disusun program-program untuk mengembalikan kejayaan sepakbola Sumbar seperti dulu.

“Sewaktu saya jadi Kapolda Sumbar, beberapa kali sudah saya upayakan untuk membenahi ini. Hanya saja sebagai Kapolda ada batasnya,” kata Fakhrizal.

Dikenangnya saat menjadi Kapolda Sumbar, Fakhrizal pernah menggelar kompetisi sepakbola Kapolda Cup, Minangkabau Cup dan membantu beberapa kompetisi sepakbola. Termasuk membantu beberapa klub untuk memunculkan Bibit-bibit pemain sepakbola masa depan Sumbar. (Hamzah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *