BERITA UTAMA

Bintang Utama Bantai KBS di LJP

Teks foto: SSB KBS dibantai SSB Bintang Utama dengan skor 0-6, di lapangan kelurahan Koto Baru, kecamatan Payakumbuh Timur, Jumat...
BERITA UTAMA

Bukti Rasa Syukur, Masyarakat Sijunjung Gelar Tradisi Bakaua Adat di Los Tobek

Sijunjung,Payakumbuhpos - Bakaua Adat adalah sebentuk tradisi yang ada dimasyarakat Minang Kabau, khususnya Kabupaten Sijunjung sebagai bentuk rasa syukur kepada...
BERITA UTAMA

DPD Pappri Sumbar Himpun Dana Bencana Alam Sumatera Barat

Teks foto: Kru Pappri Sumbar ikut sakaki menghimpun pencarian dana bencana alam Sumatera Barat.       Payakumbuhpos.id | Payakumbuh-- Pasca...
BERITA UTAMA

Disorot Fraksi Golkar, Habiskan APBD Rp1,5 M, Kini Incinerator Sudah Menjadi Besi Tua

Teks foto: Wirman Putra-Juru Bicara Fraksi Golkar DPRD kota Payakumbuh.       Payakumbuhpos.id | Payakumbuh--- Gaung kasus incinerator di RSUD...
BERITA UTAMA

Lulus di ITB Lewat Jalur Undangan, YB. Dt. Parmato Alam Salurkan Bea Siswa

Teks foto: Yendri Bondra Dt. Parmato Alam salurkan bantuan bea siswa kepada Ranji Andiko yang lulus di ITB Bandung lewat...
WISATA  

Buwas : Negara Tak Boleh Kalah dengan Mafia Beras

Budi Waseso

BANTUL – Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso angkat bicara soal dugaan adanya sindikat penyimpangan dalam tata niaga beras selama ini. Ia mengatakan hal tersebut sekarang sedang dipetakan melalui Satuan Tugas (Satgas) pangan yang dibentuk Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan.

“Kita sedang petakan semua. Masa sih negara kalah sama mafia? Kan tidak boleh,” kata Budi usai panen padi bersama Menteri BUMN di Bulak Jayan Desa Kebonagung Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu sore, 5 Mei 2018.

Budi Waseso menilai masalah perberasan selama ini adalah masalah mendasar dari seluruh masyarakat Indonesia karena tingkat kebutuhan akan komoditas tersebut sangat tinggi.

“Sehingga beras harus betul-betul bisa dikendalikan oleh negara, ketersediaannya, kestabilan harganya,” katanya.

Oleh karena itu, menurut Budi, tata niaga perberasan khususnya antara petani dengan penjual itu seharusnya sama-sama diuntungkan. Begitu juga dari sisi pembeli, juga tidak rugi dengan harga beras yang tinggi.

“Jadi harus sesuai dengan ketersediaan dari berasnya, harganya, juga terjamin kualitasnya,” kata Budi Waseso.

Ke depan, kata Budi, pihaknya bersama Kementerian Pertanian akan menggiatkan peningkatan kualitas produksi beras untuk menjaga ketahanan pangan masyarakat Indonesia. “Seperti yang hari ini kita lihat adalah beras berkualitas,”

Budi Waseso menjelaskan, dengan meningkatkan kualitas produksi beras di kalangan petani seluruh Tanah Air, maka akan menjadi sumber pemasukan atau ketahanan pangan bagi pemerintah Indonesia dari masalah beras.

“Kalau perlu ke depan kalau kita sudah bangun dengan bibit yang bagus, pertanian yang bagus, dengan hasil yang maksimal, maka Indonesia seharusnya tidak perlu impor.”

Adapun impor beras, menurut Budi Waseso, hanya bisa dilakukan saat situasi paceklik dengan jumlah penduduk yang membutuhkannya cukup besar. “Tapi kan kita bisa lakukan dengan swasembada dengan peningkatan kualitas pertanian khususnya beras,” katanya.

ANTARA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *