BERITA UTAMA

Diketuai Ns. Reisy Tane, M.Kep., Sp.Kep.An, Tim Pengabdian Masyarakat Univ USU Edukasi Masyarakat Kwala Bingai

Foto; Ns. Reisy Tane, M.Kep., Sp.Kep.An (Its) MEDAN – Tim pengabdian bagi masyarakat Universitas Sumatera Utara yang diketuai oleh Ns....
BERITA UTAMA

Dorongan Penyegaran di Golkar Payakumbuh Menguat, Wirman Putra Dinilai Paling Siap Pimpin DPD II

Wirman Putra Datuak Rajo Mantiko Alam Ketua DPRD Payakumbuh (ist) PAYAKUMBUH — Jelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kota Payakumbuh,...
BERITA UTAMA

Sejarah Baru, Payakumbuh di Bawah Wako Zulmaeta Sukses Gelar Indonesia’s Horse Racing Cup II.

Payakumbuh—PAYAKUMBUHPOS, Sejarah baru tercipta di dunia pacu kuda Indonesia. Untuk pertama kalinya, Indonesia's Horse Racing Cup yang selama ini hanya...
BERITA UTAMA

Rezka Oktoberia Meski Tak Lagi di DPR RI, hadirkan 26 Titik Irigasi P3TGAI di Payakumbuh dan Lima Puluh Kota.

LIMA PULUH KOTA — Meski tidak lagi menjabat sebagai anggota DPR RI, kepedulian Rezka Oktoberia terhadap masyarakat tidak pernah pudar....
BERITA UTAMA

Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta Resmi Menutup Kejuaraan Tenis Meja 2025.

PAYAKUMBUH — Kejuaraan Tenis Meja Piala Wali Kota Payakumbuh 2025 resmi berakhir, Minggu (10/8), di GOR Nan Ompek, Tanjung Pauh....

Bintang Restoran/Cafee Menjamur di Bukittinggi

Oleh : Prof. Dr. Elfindri, SE. MA (dir. SDGs Center Unand)

Bukittinggi, Payakumbuhpos.id, Kamis,(8/6/2023), – Menjamurnya bisnis kuliner merupakan pertanda sebuah shifting dalam dunia konsumsi.

Pergeseran pertama akibat pandemi yang membuat kecendrungan semakin terbiasanya masyarakat dengan kesadaran lingkungan dan kebersihan.

Kedua sebagai kenaikan dari munculnya kelompok baru berpenghasilan menengah dan terdidik. Mereka sebagian memiliki kebiasaan untuk berbelanja cepat dan mudah memperoleh layanan.

Ketiga pergeseran selera, dimana konsumsi semula memasak sendiri di rumah, kemudian beralih semakin menyukai masakan jadi yang tersedia di restoran dan cafe-cafe. Alasan waktu dan harga bisa menjadi pertimbangan.

Keempat semakin tersedianya teknology pelayanan cepat saji, dengan bantuan IT, mudah mengantar pesanan yang juga bisa berbiaya murah.

Kelima revolusi model restoran dari umumnya permanen alias menetap, kepada jenis pedagang asongan bergerak, tenda tenda serta mobilized.

Tidak jarang jenis yang dijajakan berupa fast food, atau sebaliknya makanan tradisional “slowfood”.

Penataan berbintang

Restoran dan cafe cafe baiknya di kelompokkan jenis restoran atau cafe.

Untuk restoran berupa
Ŕestoran Utama
Cafee dan Minuman
Lainnya

Masing-masing kelompok dibuat kriteria tentang fasilitas/kebersihan/lokasi dsb.

Kemudian dalam skala 3 tahun dilakukan assessment dan beri bintang berdasarkan nilai setiap penilaian. Bisa rasa, tampilan dan kebersihan.

Dengan begitu mereka bersaing untuk meningkatkan kualitas pelayanan.

Saya teringat sewaktu tahun 2015 ke kota York di UK, kota tourist. Ketika berbelanja di toko ‘fish and chips’ saya melihat di pintu masuk tanda akreditasi berupa bintang 4.

Saya bertanya kepada mereka yang berjualan, ternyata kriteria yang mereka harus penuhi untuk dapat bintang 4 adalah rasa, tampilan, kebersihan, harga dan pelayanan.

Dengan demikian waktu untuk pemerintah daerah lakukan penataan saat masing masing kota dan kabupaten ingin raup banyak wisatawan.

Tidak terkecuali di kota Bukittinggi, kota yang padat pendatang yang mendambakan kuliner yang enak sekali, didukung dengan fasilitas yang terkelola.

Parkir dengan sendirinya akan terkelola, pemasukan dari Pajak Pembangunan I juga akan semakin tinggi masuk ke pemerintah daerah. Ini baru maju jadinya.#(mel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *