BERITA UTAMA

Pengurus Pusat Serikat Pekerja Kerah Biru Hadiri Sosialisasi Empat Pilar di Gedung Nusantara IV

Jakarta,- Pengurus Pusat Federasi Serikat Pekerja Kerah Biru-Serikat Pekerja Seluruh Indonesia menghadiri undangan Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) pada acara...
BERITA UTAMA

Marta Uli Emmelia: Empat Pilar Kebangsaan Sangat Diperlukan Dalam Kehidupan Bernegara

Teks foto; Ketua Bidang Ekonomi dan Bisnis FSP Kerah Biru-SPSI, Marta Uli Emmelia., Ketua MPR Bambang Soesatyo, dan Roderick Manna...
BERITA UTAMA

Pelepasan dan Perpisahan Kelas VI SD Plus Muhammadiyah Diwarnai Ketua LKAAM Payakumbuh

  Teks foto: Ketua LKAAM Payakumbuh Yendri Bodra Dt. Parmato Alam kepada 61 siswa kelas VI SD Plus Muhammadiyah Payakumbuh...
BERITA UTAMA

Bintang Utama Bantai KBS di LJP

Teks foto: SSB KBS dibantai SSB Bintang Utama dengan skor 0-6, di lapangan kelurahan Koto Baru, kecamatan Payakumbuh Timur, Jumat...
BERITA UTAMA

Bukti Rasa Syukur, Masyarakat Sijunjung Gelar Tradisi Bakaua Adat di Los Tobek

Sijunjung,Payakumbuhpos - Bakaua Adat adalah sebentuk tradisi yang ada dimasyarakat Minang Kabau, khususnya Kabupaten Sijunjung sebagai bentuk rasa syukur kepada...

Begini Cara Jitu PLN Sektor Pembangkitan Ombilin Selesaikan Pencemaran Limbah B3

SAWAHLUNTO – Objek vital nasional, Pembangkit Listrik Tenaga Uap PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Ombilin 2×200 megawat, yang menghasilkan tumpukan sekitar 200.000 ton limbah abu pembakaran batubara B3 (bottom ash) di Desa Sijantang, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, mulai menemukan solusi jitu.

Setelah korporasi pelat merah itu bekerjasama dengan PT Guguk Tinggi Coal (GTC) dalam memanfaatkan limbah abu sebagai material penetral air asam tambang (acid mine drainage (AMD) atau acid rock drainage (ARD) yang mengancam terjadinya kerusakan terhadap lapisan tanah.

Pantauan harianindonesia.id dilapangan, Rabu (7/8), aktifitas pengangkutan dari pembangkit ke lokasi terlihat lancar, ada 12 unit armada  dumptruck khusus bermuatan limbah abu, yang ditutupi terpal plastik menuju tempat pembongkaran akhir di bekas areal penambangan PT GTC di Desa Salak, sekitar 3 km dari PLTU Ombilin.

‘Kami sudah angkut limbah abu yang sempat menggunung di areal pembangkit tersebut, rata-rata1.300 ton sehari.  Insya Allah, seluruh pekerjaan yang sesuai kontrak kerja selama 1 tahun dengan pihak PT PLN Sektor Pembangkitan Ombilin akan bisa diselesaikan tepat waktu”.ungkap Defrizal Con, optimis..      

Dikatakannya, untuk lahan penampungan abu tersebut tersedia cukup luas, di perkirkan mampu menampung limbah objek vital PLTU hingga 500.000 ton lebih.  Dengan demikian, lanjutnya, PT GTC siap berkomitmen sebagai mitra PT PLN Sektor Pembangkitan Ombilin dalam jangka menengah dan panjang.

Direktur PT GTC Defroizal Con,di dampingi staf supervisor Slamet, kepada harianindonesia.id mengatakan, persoalan yang mengemuka belum lama ini tentang flay ash (FA) dan bottom ash (BA) yang diproduksi dari hasil pembakaran batubara PLTU Ombilin sudah mulai teratasi berkat kerjasama yang dilakukan kedua belah pihak.

General manager PLTU Sektor Pembangkitan Ombilin melalui Manager SDM dan Umum Ahmadi, saat dikonfirmasi Kamis (8/8) siang, mengatakan, tumpukan bottom ash yang berada di areal pembangkit tersebut terus berkurang setelah mitranya PT GTC melakukan pengangkutan limbah itu ke lokasi reklamasi, penetralisasi asam tambang di lahan GTC.

“Semua berjalan dengan baik, persoalan limbah FA dan BA sudah mulai teratasi berkat dukungan dan pengertian semua pihak. Untuk FA, kami terus bekerja intensif memperbaikinya, Insya Allah akhir September tahun ini penggantian filter penangkap abu dapat diselesaikan.” tuturnya, optimis.

Sekilas Limbah Abu PLTU

Sebuah hasil penelitian dari tim ahli LAPI, Institut Teknologi Bandung, menyebutkan, salah satu isu penting dalam pengelolaaan lingkungan  yang sering dihadapi oleh industri pertambangan adalah masalah air asam tambang (ATT) atau acid mine drainage atau acid rock drainage.

Hal itu dikarenakan dampak lingkungan yang ditimbulkannya akan jadi permasalahan jangka panjang terhadap biota perairan , baik secara langsung  karena tingkat keasamannya yang tinggi mauoun akibat peningkatan kandungan logamdi dalam air. Isu ini bukan hal baru dalam industri pertambangan, dan hingga kini penerapan pencegahan dan pengelolaanya seringkali sulit dilaksanakan.

Berdasarkan penelitian yang komprehensif LAPI ITB,pencegahan dapat dilakukan dengan covering material yang berpotensi membentuk AAT (potential acid forming/PAF).dengan menggunakan material yang tidak berpotensi menghasilkan asam (non acid forming) seperti FA dan BA (FABA). Penelitian dilakukan mengacu pada parameter-parameter yang dianalisis dan hasil laboratorium.

Selama ini, PLTU Ombilin yang menghasilkan produk sampingan limbah abu FABA sekitar 220 ribu ton pertahun, pengelolaanya dilakukan dengan cara penyimpanan di TPS limbah B3. Namun pengelolaan seperti itu tidak semua FABA dikelola dengan baik.

Sejak 2017, PLTU Ombilin bekerjasama dengan pihak ketiga melakukan pemanfaatan FABA untuk batako dan paving block sebesar 10 persen dari total timbulan  per tahun. Serta sebagai bahan baku  produksi semen sekitar 4 persen dari total timbulan per tahun. Sehingga masih ada 86 persen lagi timbulan FABA pertahun yang belum dapat dimanfaatkan.

Atas kajian itu, PLTU Ombilin mulai melakukan cara pengelolaan FABA dengan memanfaatkan lahan bekas penambangan batubara milik PT GTC yang sangat cocok dari hasil penelitian AAT, dimana fokus terhadap timbulan karakterteristik flay ash dan bottom ash sebagai material NAF dalam mencegah pembentukan air asam tambang.

Walikota Sawahlunto Deri Asta, mengapresiasi upaya PLTU, secara cepat dan tanggap menanggapi keluhan warga. Sebagaimana laporan dan data Kadis Perumahan dan Kawasan Pemukiman, Pertanahan dan Lingkungan Hidup, Adrius Putra menyebutkan, hasil uji laboratorium tentang LD-50 disimpulkan abu limbah pembakaran PLTU tersebut tidak beracun, yang diujikan kepada hewan percobaan dengan dosis 500 mg/kg.

Pengujian juga dilakukan terhadap udara ambien disekitar lingkungan pembangkit dengan hasil di bawah baku mutu lingkungan sesuai PP No. 41 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran Udara.

Sehingga diharapkan, setelah proses itu bisa dilakukan secara simultan akan dapat mengembalikan lahan bekas penambangan batubara tersebut sebagai lahan reklamasi dan pertanian produkstif seperti sediakala sebelum dilakukan penambangan.(Ind)

Sumber harianindonesia.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *