Menyalakan Kembali Gairah Kakao Desa Perbesi, Dosen FP USU Kenalkan Bibit Unggul ICCRI-08H dan Teknologi Hayati
MEDAN — Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (FP USU), menunjukkan komitmennya dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang menyasar petani kakao di Desa Perbesi, Kecamatan Tigabinanga, Kabupaten Karo.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat, 21 Agustus 2026, itu mengusung tema “Penguatan Akses Reforma Agraria Kementerian ATR/BPN melalui Pemberdayaan Petani Kakao dengan Introduksi Bibit Hibrida ICCRI-08H dan Pengelolaan Hama Berbasis Teknologi Hayati.
Program tersebut digagas oleh Triwanto Nababan, S.P., M.Agr., bersama tim yang terdiri dari Nahrisa Rahmadhani, S.Agr., M.Si., Rouzatul Nafisah, S.P., M.Si., dan Prof. Dr. Lisnawita, S.P., M.Si. Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa Program Doktor Ilmu Pertanian Bahditra Zanifer, mahasiswa Magister Agroteknologi Medina Shafira, serta mahasiswa Sarjana Agroteknologi Elfrido Naibaho dan Arif Budi Sejati.
Program ini menjadi langkah nyata perguruan tinggi dalam memperkuat kapasitas petani sekaligus mendorong peningkatan produktivitas, keberlanjutan usaha tani, serta hilirisasi komoditas kakao di Kabupaten Karo.
Kegiatan turut dihadiri Kepala Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Karo, Nhora Herawaty Saragih, S.ST., M.Si., Kepala Desa Perbesi Martinus Sebayang, perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Karo, serta perwakilan Rumah BUMN.
Melalui program tersebut, petani tidak hanya diperkenalkan pada bibit unggul hibrida kakao ICCRI-08H, tetapi juga dibekali pengetahuan mengenai pengelolaan hama dan penyakit tanaman berbasis teknologi hayati.
Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan utama masyarakat Desa Perbesi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, minat masyarakat untuk membudidayakan kakao mengalami penurunan akibat berbagai kendala, terutama serangan hama dan penyakit yang sulit dikendalikan.
Kondisi tersebut tercermin dari menurunnya luas areal perkebunan kakao di Kecamatan Tigabinanga. Data Kabupaten Karo mencatat luas areal kakao mencapai 1.021,57 hektare pada tahun 2022, kemudian berkurang menjadi 896,57 hektare pada 2023 atau turun sekitar 125 hektare (12,2 persen) dalam satu tahun.
Penurunan tersebut menjadi perhatian karena berimplikasi terhadap keberlanjutan produksi dan pendapatan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor perkebunan. Oleh sebab itu, pengembangan kakao dinilai tidak hanya membutuhkan upaya mempertahankan lahan, tetapi juga peningkatan produktivitas melalui penggunaan bahan tanam unggul, pengelolaan tanaman yang baik, serta pengendalian organisme pengganggu tanaman secara efektif dan berkelanjutan.
Sebagai solusi, tim pengabdian memperkenalkan sebanyak 1.300 bibit unggul hibrida kakao ICCRI-08H kepada masyarakat. Varietas hasil persilangan klon-klon unggul tersebut memiliki potensi produktivitas mencapai 1,83 hingga 2,5 ton per hektare, tahan terhadap penyakit busuk buah dan Vascular Streak Dieback (VSD), serta toleran terhadap kondisi iklim kering.
Kehadiran bibit unggul ini diharapkan mampu membantu petani memperoleh tanaman kakao yang lebih adaptif dan produktif dalam menghadapi berbagai tantangan budidaya.
Selain pengenalan bahan tanam, tim juga memberikan pelatihan mengenai pengelolaan hama dan penyakit dengan pendekatan berbasis agens hayati menggunakan Trichoderma spp. Pendekatan ini dinilai sebagai alternatif pengendalian yang ramah lingkungan, berkelanjutan, dan mampu mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan bahan kimia.
Rangkaian kegiatan meliputi sosialisasi, pelatihan, praktik lapangan, simulasi pengambilan dan aplikasi agens hayati, serta pendampingan dan evaluasi bersama masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, petani tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga pengalaman langsung dalam menerapkan teknologi yang diperkenalkan.
Tim pengabdian menyampaikan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada aspek teknis budidaya, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan kapasitas petani agar mampu memahami, mengembangkan, dan menerapkan teknologi secara mandiri dan berkelanjutan.
Kegiatan ini turut melibatkan mahasiswa Fakultas Pertanian USU sebagai bagian dari program rekognisi Kampus Berdampak. Keterlibatan mahasiswa memberikan kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan secara langsung di tengah masyarakat, sekaligus memahami tantangan nyata yang dihadapi petani kakao.
Program Pengabdian kepada Masyarakat ini juga menjadi wujud nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), di antaranya SDGs 1 (Tanpa Kemiskinan), SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), SDGs 15 (Ekosistem Daratan), dan SDGs 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Kegiatan ini didanai melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat TALENTA Skema Perintis yang bersumber dari dana Non-PNBP Universitas Sumatera Utara Tahun Anggaran 2026.
Ke depan, tim pengabdian berharap penggunaan bibit unggul hibrida ICCRI-08H dan pemanfaatan agens hayati Trichoderma spp. dapat terus dikembangkan serta diterapkan secara mandiri oleh masyarakat Desa Perbesi.
Dengan sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat, upaya tersebut diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan budidaya kakao, tetapi juga membuka peluang hilirisasi dan menghidupkan kembali kejayaan kakao di Kabupaten Karo. (Gilang)











